KHOTBAH HARI INI

Kotbah hari ini

 

 Karena kekurang-lancaran komunikasi, pagi ini saya beribadah di Pasamuwan (pepantan) Piyak, yang berada di desa. Yang memimpin ibadah seorang bapak, yang dari segi umur masih tergolong muda, dari segi pendidikan tergolong rendah. Ia hanya tamat SD.  Katanya setelah tamat SD bapaknya tidak mengijinkan ia meneruskan ke SMP sebab menganggap tidak perlu dan tidak penting sekolah lebih tinggi daripada SD.

Meskipun ia tahu saya ikut beribadah, duduk di antara para warga gereja, ia menyampaikan kotbah dengan tenang, tidak ada tanda-tanda mengalami tekanan mental, minder, kurang percaya diri, dsb. Saya sungguh bangga terhadap dirinya. Tidak semua orang memiliki keberanian yang bukan sok atau jumawa untuk menyampaikan kotbah. Tidak semua orang yang bersedia dengan kerendahan hati melayankan kotbah tetap bersikap dan bertindak tenang ketika tahu di dalam ibadah ada orang lain yang dianggap melebihi dirinya, dari segi umur, kepandaian, posisi/status sosial, pengalaman, dsb.

Kebanggaan saya semakin menggelembung memperhatikan isi kotbahnya yang didasarkan pada Injil Markus 8 : 31 – 18, dan ia membaca ulang Markus 8 : 34 – 38. Dalam kotbahnya ia mengawali betapa kita merasa kecewa ketika kehilangan harta atau kekayaan, meskipun harta kekayaan yang hilang itu hanya kecil. Apalagi kalau kita kehilangan nyawa. Lalu, berulang kali ia menegaskan ajakan untuk menghitung berkat Allah, keberuntungan yang dialami, dan berkat tambahan kalau kita bersedia selalu beribadah kepada Allah dengan setia.

Ia memberi contoh konkret tentang menghitung berkat Allah, dengan contoh kenyataan sehari-hari yaitu bahwa kita sudah bisa hidup dengan sangat nyaman. Rumah yang bagus, sekarang jalan juga sudah bagus, dsb

Ia juga memberi contoh konkret menghitung keberuntungan yang dialami, yaitu jangan membandingkan hidup dengan yang lebih kaya, hidup lebih enak, dsb, tetapi dengan yang lebih sengsara, lebih sulit, lebih menderita. Kalau kita membandingkan dengan yang lebih sulit, sengsara, menderita kita mesti semakin semangat membangun hidup saleh. Yang lebih sulit, sengsara, menderita saja semangat, la mosok kita justru lemah, tidak semangat. La ada anggota majelis gereja dari pasamuwan lain, ibu-ibu sudah tua. Mereka berdua itu yang menjadi majelis di pasamuwan itu. Keduanya itu tidak bisa naik sepeda motor. Ke mana-mana hanya naik sepeda. Ketika sidang majelis di pasamuwan yang tempatnya jauh, mereka bersemangat mengayuh sepeda. Meskipun terkena panas matahari, atau dijatuhi rintik hujan, tapi mereka bersemangat. La kita yang bisa naik sepeda motor harusnya lebih bersemangat to.

Ia juga memberi contoh konkret berkat tambahan kalau kita bersedia selalu beribadah  kepada Allah dengan setia. Kalau menjadi majelis gereja, misalnya, mendapat berkat tambahan dari Allah antara lain mempunyai kenalan dan itu berarti bertambah saudara, yaitu sesama majelis gereja dari pasamuwan lain.

Dalam batin saya pun lalu muncul tambahan penjelasan tentang berkat tambahan dari Allah itu. Kalau hadir di sidang majelis pasti mendapat suguhan, itu berarti makan wekkkkkkk. Apalagi bagi pendeta. Berkat tambahan itu berlipat. Antara lain, setelah sidang selesai, pulangnya dititipi bawaan berat, yaitu sisa lauk dan makanan seadanya.




Ki Atma

Komentar