kenyang




Lagi-lagi gubernur terjegal kasus korupsi. Tidak mengagetkan. Begitulah lika-liku pejabat kita. Yang lucu bukanlah si pejabatnya yang korupsi tetapi komentar koleganya yang memaklumi karena gaji gubernur itu kecil. Whattttt????

Merasa kenyang itu memang diperlukan sebagai kendali diri. Ukuran kenyang itu sangat subjektif. Yang bisa menentukan kenyang apa belum itu ya kita sendiri. Dalam hal makan lebih gampang kita merasa kenyang. Kalau sudah merasa kenyang, ya otomatis nafsu makan kita akan berkurang dan menghilang. Tapi kalau dalam hal uang dan materi.... sangat sulit untuk merasakan “kenyang”. Kenyang sangat berkaitan dengan hal syukur. Orang yang merasa kenyang (biasanya) akan bersyukur. Tapi bagi yang belum merasa kenyang, tidak akan bisa bersyukur. Berapakan gaji gubernur? Tidak perlu saya sebutkan jumlahnya dalam tulisan ini. Apakah itu jumlah yang kecil? Bagi saya itu jumlah yang besar untuk ukuran pejabat. Kalau memang tidak besar ya cukuplah... Tapi ketika tidak ada rasa syukur karena masih merasa belum kenyang, ya jumlah segitu itu sangat-sangat kecil.

Bacaan harian hari ini ( Markus 8 : 1 - 10) berbicara mengenai lapar, makan, dan kenyang. Yesus membagikan roti dan ikan bagi para pengikut yang kelaparan. Sangat sederhana menunya. Roti dan ikan. Tanpa sayur, tanpa madu, tanpa susu. Tapi mereka makan sampai kenyang! Setelah itu mereka mengumpulkan sisanya.

Bibit korupsi adalah tidak pernah merasakan kenyang. Bolehlah kita terus-menerus merasa lapar dalam hal mencari ilmu, kebenaran, dan berbagi kasih. Yesuspun berkata dalam khotbahnya. “berbahagialah orang yang haus akan kebenaran...” Tapi untuk masalah harta dan kekuasaan, mari kita belajar untuk merasa “kenyang”.

Komentar