AGAMA dan SENI



Pada  1 Pebruari 2018 yang lalu masyarakat di sekitar sungai Cibojong, Sukabumi geger sebab ada tumpukan batu di 90 titik di tengah sungai itu. Tumpukan batu itu adalah seni, yang disebut dengan stone balancing art (seni batu bersusun seimbang), yang berasal dari Jepang. Menyusun batu demikian itu harus dilakukan dengan konsentrasi, sebab batu-batu itu berbeda-beda besar, bentuk, dan beratnya dan hanya bisa ditata ketika si penata mampu meletakkan batu yang satu di atas batu yang lain secara seimbang.

Sayang, pada 3 Pebruari 2018, ke-90 batu bersusun seimbang itu musnah sebab dibongkar. Pemerintah setempat, camat, dan MUI, memutuskan membongkar semua itu karena kuatir benda-benda itu mendatangkan kemusyrikan. Dikuatirkan batu bersusun seimbang itu menjadi penyebab orang menganggap ada kegaiban.

Ratusan tahun yang lampau, ketika terjadi reformasi dan banyak orang beralih dari tradisi Roma Katolik ke tradisi protestan yang sedang dibangun, maka banyak gedung gereja yang semua merupakan gedung gereja Roma Katolik dibersihkan dari benda-benda seni rupa. Patung, relief, dsb yang biasanya ada di dalam gedung gereja dirusak dan dimusnahkan. Sejak 500 tahun yang lampau itu hingga sekarang bagian dalam gedung greja protestan bersih, tidak ada benda seni rupa apa pun. Yang ada hanya mimbar tempat pemimpin ibadah melakukan tugasnya, dan kursi-kursi atau bangku-bangku tempat duduk umat.

Di antara agama-agama yang hidup di Indonesia sekarang ini agama Kristen, atau protestan, dan Islam yang seolah-olah anti dengan seni rupa. Agama-agama ini adalah agama kata-kata. Yang menjadi pusat adalah kata-kata atau Sabda, yaitu kitab suci, dan disampaikan lewat kata-kata yaitu kotbah.  Seni rupa, dalam bentuk apa pun, dicurigai bisa menyebabkan dosa, yaitu menyekutukan Allah dengan benda seni rupa itu. Apalagi kalau kemudian benar-benar ada yang meyakini adanya kekuatan gaib dari benda seni rupa itu.

Benda seni, juga seni rupa, antara lain patung, relief, dsb itu sejatinya selalu merupakan alat yang berdaya guna (efektif) dan berhasil guna (efisien) untuk melakukan perenungan. Fungsi dan manfaat demikian ini di bidang atau aspek hidup apa pun. Ketika orang melihat foto anak kecil yang kurus, buncit, telanjang dan setengah mati sedang dikerubungi lalat maka ekonom, politikus, sosiolog, agamawan, filsof dsb dapat melakukan perenungan tentang kelaparan, kemiskinan, penderitaan, kematian. Benda seni rupa itu sendiri netral atau bebas nilai. Benda seni rupa itu menjadi bermakna justru karena orang merenungkannya.

Agama itu sejatinya adalah perihal perenungan. Sebab Allah itu tidak kelihatan. Hanya melalui perenungan maka kehadiran Allah dapat dihayati, dialami, dirasakan. Bahasa lain perenungan itu adalah meditasi. Orang berkonsentrasi sedemikian sehingga seolah melupakan dan mengabaikan hal lain yang terjadi di sekitar dirinya, sebab ia memang sedang mengarahkan seluruh perhatian pada sesuatu, yaitu Allah, kehadiran Allah, kasih Allah, dsb. Benda seni rupa, patung, relief, gambar, foto, dsb, sebenarnya sangat membantu orang melakukan perenunga, meditasi, mengarahkan seluruh konsentrasinya pada satu titik. Selayaknya agama tidak perlu menguatirkan pembelokan fungsi dan manfaat benda seni rupa, yaitu menyebabkan kemusyrikan, melainkan justru dapat memanfaatkan sebagai alat meditasi untuk merasakan dan mengalami kehadiran, kasih, kemurahan, sapaan dsb dari Allah yang disembahnya.

 

 

 

Ki Atma

Komentar