TIDAK MEMANFAATKAN ALLAH

 

Dengan meyakini bahwa Tuhan Allah, yang disembahnya, itu adalah Allah Yang Mahakuasa dan Mahakasih, maka kebanyakan orang beragama itu di dalam doanya cendeerung penuh dengan permohonan. Allah itu Mahakuasa maka apa pun bisa dilakukan-Nya. Hal yang mustahil pun dilakukan-Nya. Oleh sebab itu, orang beragama memohon mujizat-Nya. Lagipula Allah itu Mahakasih. Ia berkenan umat-Nya memohon kepada-Nya, memohon apa pun. Maka banyak orang yang tidak takut, juga tidak merasa risih untuk memohon ini, atau itu, atau bahkan ini dan itu. Pagi, siang, sore, malam, setiap waktu berdoa mereka memohon kepada Allah.

Sebenarnya orang beragama itu juga tahu dan yakin bahwa selayaknya orang beriman itu bersyukur dan bahkan memperbesar dan memperbanyak bersyukurnya. Akan tetapi, hanya sedikit saja orang beragama yang memperbesar dan memperbanyak syukur daripada memohon. Meskipun, sesungguhnya sebelum bahkan tanpa memohon pun Allah sudah memberi, melimpahi dengan berkat-berkat-Nya. Yang paling  kentara adalah berkat hujan dan panas matahari. Tanpa hujan dan panas matahari, semua makluk, juga manusia pasti mati dan musnah. Keduanya itu dikaruniakan Allah tanpa dimohon sekali pun.  

Meskipun memohon itu tidak salah apalagi dosa, namun banyak memohon menunjukkan kecenderung egoism dan egoistis. Yang penting adalah saya atau kami. Sedangkan memperbesar dan memperbanyak syukur itu menunjukkan dengan jelas kecenderungan lebih mementingkan pujian dan pemuliaan kepada Allah. Bukan diri sendiri atau kelompok, yaitu manusia, melainkan Allah yang diutamakan dan dipentingkan.

Dari antara sedikit orang beriman yang lebih menekankan syukur daripada memohon, memuji dan memuliakan Allah daripada diri sendiri dan kelompok, kita temukan setidaknya dua orang yang layak diperhatikan doanya.

Adalah seorang sufi, yang bernama Rabi'ah al Adawiyah, yang pernah dalam doanya menyatakan "ya, Allah, jika aku menyembah-Mu karena aku takut kepada neraka, bakarlah aku di dalamnya. Jika aku menyembah-Mu karena mengharap surge, campakkanlah aku darinya. Akan tetapi, jika aku menyembah-Mu demi Engkau semata, jangalah Engkau enggan memperlihatkan keindahan wajah-Mu yang abadai kepadaku."

Doa sang sufi itu menunjukkan dengan jelas bahwa yang lebih diutamakan dan dipentingkan adalah cinta kepada Allah dengan tulus, bukan mencintai Allah untuk mendapatkan keuntungan diri sendiri, yaitu masuk sorga atau terhindar dari neraka.

Adalah Santo Fransiskus dari Asisi yang mengungkapkan dalam doanya:

 

Tuhan,
Jadikanlah aku pembawa damai,
Bila terjadi kebencian,
jadikanlah aku pembawa cinta kasih,
Bila terjadi penghinaan,
jadikanlah aku pembawa pengampunan,
Bila terjadi perselisihan,
jadikanlah aku pembawa kerukunan,
Bila terjadi kebimbangan,
jadikanlah aku pembawa kepastian,
Bila terjadi kesesatan,
jadikanlah aku pembawa kebenaran,
Bila terjadi kecemasan,
Jadikanlah aku pembawa harapan,
Bila terjadi kesedihan,
jadikanlah aku sumber kegembiraan,
Bila terjadi kegelapan,
jadikanlah aku pembawa terang,
Tuhan semoga aku ingin menghibur daripada dihibur,
memahami daripada dipahami,
mencintai daripada dicintai,
sebab
dengan memberi aku menerima,
dengan mengampuni aku diampuni,
dengan mati suci aku bangkit lagi,
untuk hidup selama-lamanya.
Amin.

 

Meskipun kalimat-kalimat doa ini adalah kalimat-kalimat permohonan, tetapi permohonan itu bukan untuk diri sendiri, melainkan justru kesediaan diri untuk berbuat sebagai alat atau saluran berkat Allah kepada orang lain.

Alllah memang Mahakuasa dan Mahakasih, namun selayaknya sebagai orang beriman, setiap orang beragama bukan memanfaatkan Allah, hanya memohon, terlebih permohonan itu melulu untuk diri sendiri atau kelompok, tetapi lebih mencintai Allah dengan tulus dan memperbanyak serta memperbesar syukur yaitu dengan kesediaan menjadi alat atau saluran berkat Allah kepada pihak lain, sesama maupun makluk lain, alam semesta.



Ki Atma

Komentar