TENAR


Pada umumnya orang mengejar kesuksesan. Hidup ini dianggap berarti kalau sukses. Sebaliknya hidup dianggap gagal dan tidak berguna kalau tidak sukses. Jenis aspek hidup dan ukuran kesuksesan itu tidak penting, sebab yang penting adalah sukses dan tanda atau bukti utama kesuksesan itu adalah terkenal atau tenar.

Agar mencapai kesuksesan, menjadi tenar, para orang tua tidak segan memaksa anaknya untuk mengurbankan kebahagiaan masa anak-anak mereka ditukarkan dengan belajar dan belajar, yaitu dengan les, mengerjakan PR, belajar sendiri di kamar, dan sebagainya. Demi ketenaran yang juga berarti sukses hidup, orang rela mengurbankan apa pun, bahkan kehormatan atau harga diri sekali pun, seolah tidak ada prinsip yang layak dibela dan dipertahankan kecuali hanya tenar sebagai bukti sukses itu. Untuk mencapai ketenaran, orang tidak segan menempuh semua cara halal atau haram, baik atau tidak baik, bersih atau kotor, seolah setelah tenar maka kekotoran, ketidak-baikan, ke-haram-an itu akan terhapus, tertebus dengan sendirinya.

Bagi mereka yang mengejar ketenaran demikian itu, ketenaran disamakan dengan gegap gempita sanjungan, kegemparan puja-puji, kemeriahan penyembahan kepada dirinya. Mereka juga sadar bahwa semua itu hanya sementara. Ketenaran demikian itu tidak akan bertahan lama, apalagi langgeng. Ketenaran demikian itu segera akan berlalu dan menghilang. Oleh sebab itu mumpung sedang tenar, mereka lahap gelimang kehormatan diri itu dengan rakus, seolah sama sekali tidak ingat bahwa pada waktu meninggal semuanya itu akan berubah total sebaliknya. Di dunia, ketenaran dengan pujian itu bisa terjadi berubah menjadi cacian dan cibiran, di alam kekal kemewahan dan kesuka-citaan ketenaran keduniaan itu bisa terjadi menjadi siksa neraka.

Sangat sedikit, bahkan hampir tidak ada orang yang tidak mengejar ketenaran demikian itu, tetapi mengejar kesuksesan hidup dengan pengurbanan diri demi terciptanya kehidupan firdausi. Orang yang jumlahnya hanya sedikit ini menempuh jalan sunyi. Mereka bekerja di tempat sepi, yang dijauhi dan tidak dikenali orang banyak. Berbeda dengan orang yang mengurbankan apa pun, termasuk diri dan harga diri atau harkat dan martabatnya demi mengejar ketenaran, orang yang jumlahnya hanya sedikit ini mengurbankan diri justru untuk kebahagiaan, kemewahan, ketenaran pihak lain, bukan dirinya sendiri. orang demikian merelakan apa pun yang dimiliki untuk menjadi tumbal terwujudnya kehidupan firdausi, sebuah hidup penuh kedamaian dan ketenteraman yang menjadi impian semua orang.

Salah satu contoh, (saya senang sekali mengulang-ulang menceriterakan sosok ini) adalah mbah Sadiman yang tinggal di Bulukerto, Wonogiri itu. Ia kurbankan hartanya yang hanya sedikit karena ia dan keluarganya adalah orang miskin (rumahnya berlantai tanah berukuran 9 x 6 m), bahkan harga diri atau harkat dan martabat dirinya sebagai manusia sehingga ia dijuluki "wong edan" (orang gila), karena ia menanam pohon untuk menghijaukan gunung. Yang dihijaukan bukan kebunnya sendiri, atau hanya lahan-lahan di desanya, tetapi gunung dengan luas mencapai kurang lebih 100 ha. Kesuksesan bagi orang seperti mbah Sadiman bukan ketenaran diri, tetapi pulih dan lestarinya alam. Orang seperti mbah Sadiman memang orang yang telah menemukan dirinya sendiri, maka ia tidak membutuhkan pujian, sanjungan, penyembahan orang lain. Ia telah mencapai tingkat hidup sebagai alam, ciptaan Tuhan, yang tidak bertambah ketika dipuji dan tidak berkurang karena dicaci. Ia adalah ia.

Hanya orang yang telah menemukan dirinya sendiri, yang telah merasa sukses dengan apa pun yang dijalani dalam hidupnya. Orang demikian tidak akan mengejar ketenaran yang sejatinya semu, sebab bersifat sementara dan bisa berubah total sebaliknya. Hanya orang yang telah menemukan dirinya sendiri, yang berkarya atau bekerja itu adalah totalitas hidup untuk mengabdi. Tidak ada perbedaan masa belajar dan masa praktek, tidak ada pembeda waktu atau jam kerja dan rekreasi sebab semua dijalani sebagai kerja dan semua juga dijalani sebagai rekreasi untuk menyenangkan diri, tidak ada masa aktif atau masa pensiun sebab seluruh hidupnya memang untuk mengabdi. Yang hanya ada kesunyian, keheningan, tapi tidak merasa sepi. Inilah jenis dan tingkat kesuksesan hidup tanpa puja-puji, tanpa penyembahan, tanpa sanjungan. Inilah jenis dan tingkat ketenaran yang bersifat tahan lama bahkan langgeng. Inilah kesuksesan hidup sejati, duniawi dan sorgawi.

 


Ki Atma

Komentar