MENELADAN

Sering kali terdengar ajakan atau anjuran untuk meneladan tokoh tertentu. Terlebih para pemimpin agama selalu mengajak atau menganjurkan agar umat agama itu meneladan tokoh utama agama itu. Umat Kristen diajak atau dianjurkan untuk meneladan Tuhan Yesus, misalnya. Bahkan ada yang memahami peneladanan itu juga selengkap mungkin. Meneladan atau meniru mode pakaian, penampilan, perilaku atau tindakan, dsb.

Meneladan atau meniru itu kelihatannya baik, tetapi sesungguhnya TIDAK BENAR dan TIDAK BERTANGGUNG–JAWAB. Meneladan atau meniru itu tidak benar, sebab setiap orang itu unik. Tokoh yang ditiru itu unik, diri sendiri ini juga unik. Bahkan dua orang yang kembar dan berasal dari sel telur yang sama, tetap saja unik. Kalau pun raga (bentuk tubuh hingga wajah) sama dan juga kalau pun kelihatannya memiliki watak atau karakter yang sama, masing-masing tetap saja unik. Setiap orang memiliki pergumulannya sendiri, harapan atau impiannya sendiri, tantangan dan kesempatan yang istimewa baginya, dsb, dsb. Meniru atau meneladan, dengan demikian, justru mengingkari ke-unik-an nya. Itu menyalahi kodrat ke-unik-an atau keistimewaan dirinya sendiri.  Ketika seseorang berbicara atau melakukan sesuatu tindakan karena (dengan alasan) meneladan atau karena menuruti perintah tokoh tertentu, termasuk tokoh utama agama, sejatinya ia telah memperlakukan dirinya sebagai robot, yang digerakkan oleh mesin yang berujud gaya tokoh tertentu itu atau mesin itu berupa ajaran tokoh tsb. Sebagai robot ia kehilangan harkat dan martabatnya atau nilai dirinya sebagai manusia. Seorang kristiani yang berbicara atau bertindak karena meneladan Yesus, misalnya, ia telah menjadi robot yang digerakkan oleh mesin berujud gaya/model Yesus menurut imajinasinya, dan ia kehilangan harkat dan martabatnya sebagai mansuia. Demikian juga seorang kristiani yang berbicara atau bertindak karena merasa diperintah begini atua begitu oleh Yesus, betapa pun baiknya perintah itu, misalnya perintah untuk mencintai sesama, mengasihi musuh, maka sejatinya ia telah menjadi robot dengan mesin penggerak perintah Yesus tadi. Ia telah kehilangan harkat dan martabatnya sebagai manusia.

Yang paling baik dan tepat itu bukan meneladan, tetapi menjadikan sebagai inspirasi. Memperhatikan dan meyakini diri sendiri itu unik, maka semua yang diucapkan dan dilakukan harus otentik, asli, berasal dari diri sendiri, bukan tiruan, bukan jiplakan. Hanya dengan otentik, berasal dari diri sendiri maka ia juga dapat mempertanggung-jawabkan semua yang dikatakan dan dilakukan. Orang lain, sehebat apa pun, bukan ditiru, tetapi dijadikan inspirasi. Kalau dia begitu, lalu aku bagaimana? Maka hal-hal yang menarik dari tokoh tertentu itu, yaitu perilaku, gaya/model atau ajaran-nya dipergumulkan dan berdasarkan pergumulan itu ia menentukan omongan dan tindakannya sendiri. Sehingga, kalau pun omongan dan tindakan itu sama persis dengan ajaran atau gaya/model perilaku tokoh tsb, itu bukan sekedar menjiplak, meniru tetapi merupakan hasil pergumulannya sendiri. Itu hasil olahan batinnya. Itu otentik, asli berasal dari dalam hati/dirinya sendiri.

Perintah Yesus untuk mengasihi musuh, misalnya, diolahnya di dalam hati, pikirannya sendiri. Orang yang memusuhi itu betapa pun jahatnya, adalah manusia, yang sama dengan dirinya. Kalau saya dicubit sakit, orang itu juga akan merasa sakit. Lagipula, setiap orang mempunyai kekurangan, kelemahan, cacat. Ia memusuhi saya, mungkin saya juga dianggap sebagai memusuhi oleh orang lain, yaitu mereka yang merasa tidak suka dengan perkataan atau perbuatan saya. Jadi, saya mesti mengasihi musuh (orang yang memusuhi saya). Ini keputusan saya. Demikianlah perintah Yesus itu diolah sehingga menjadi milik sendiri, dan ketika dilaksanakan itu bukan karena perintah Yesus, melainkan karena keputusan hati sendiri. Ini otentik, asli dari diri sendiri. Orang yang demikian yang tetap memiliki nilai diri atau harkat dan martabat sebagai manusia, bukan menjadi robot dengan mesin yang berupa perintah atau ajaran pihak lain, siapa pun, juga tokoh utama agama yang dipeluknya.

Kalau Yesus berambut gondrong, bukan saya meniru gondrong, melainkan saya bergumul tentang kepala, tentang rambut, dan berdasar pergumulan saya tentang makna, peran dan fungsi kepala, juga rambut saya membuat keputusan untuk gondrong, gundul, cukur dengan mode tertentu, dsb. Saya bertanggung jawab atas pilihan saya gondrong, gundul, cukur dengan mode tertentu, sebab itu keputusan saya. Itu otentik, asli dari hati, jiwa, pikiran saya.

Jadi, jangan pernah meniru atau meneladan siapa pun, sehebat apa pun tokoh itu, tetapi jadikan ia sebagai inspirasi dalam hidup yang dijalani ini. Meniru atau meneladan itu persis dengan tindakan orang yang mengendari mobil, dan ketika mobil itu mogok lalu mendorong mobil itu hingga sampai ke tujuan. Sedangkan menjadikan seseorang sebagai inspirasi itu tidak ubahnya orang yang mengendari mobil, dan ketika mobil itu mogok ia mencari tahu penyebab mogok itu, mengatasi masalahnya lalu menghidupkan kembali mesin mobil dan mengendari sampai ke tujuan.

(tertatihdirinimenujukesana)



Ki Atma