IDOLA


Orang yang diidolakan itu selalu dibayangkan atau dianggap sebagai orang yang sempurna. Padahal sesungguhnya orang itu tidak sempurna. Sebab memang tidak ada orang yang sempurna. Setiap orang itu sejatinya mempunyai kelemahan, kekurangan, cacad atau cidera manusiawi. Karena idola itu dibayangkan atau dianggap sebagai orang yang sempurna, maka ketika orang yang diidolakan itu terbukti memiliki kelemahan, kekurangan, cacad atau cidera manusiawi, runtuh dan ambyar bayangan, anggapan terhadap si idola itu. Tidak jarang orang yang kecewa karena ternyata yang diidolakan itu terbukti mempunyai kekurangan, kelemahan, cacad atau cidera manusiawi, orang yang mengidolakan itu kemudian berbalik membenci orang yang diidolakan itu.

Ketika hari ini tersebar berita bahwa Ahok menggugat cerai Veronika, isterinya, sangat mungkin banyak orang yang kecewa kepada Ahok, sebab ternyata Ahok mempunyai kekurangan, kelemahan, cacad atau cidera manusiawi.

Lebih baik tidak mengidolakan seseorang, melainkan bersikap wajar, biasa, lumrah atau bahkan kritis terhadap orang itu, betapa pun hebatnya orang itu. Kalau bersikap wajar, biasa, lumrah terhadap seseorang meskipun orang itu hebat, maka ketika melihat kekurangan, kelemahan, cacad atau cidera manusiawinya tidak kaget dan juga bersikap biasa, lumrah, wajar saja. Kalau bersikap kritis terhadap seseorang, di satu pihak menganggap wajar, lumrah, biasa kalau tahu bahwa orang itu mempunyai kekurangan, kelemahan, cacad atau cidera manusiawi, di pihak lain mampu juga melihat kelebihan, keutamaan, keistimewaan, kehebatan orang itu juga secara wajar, lumrah, biasa. Bersikap kritis terhadap Ahok, misalnya, di satu pihak tidak kecewa ketika tahu bahwa Ahok menggugat cerai isterinya, di pihak lain tetap mampu mengapresiasi, menghargai, menghormati kehebatan, keistimewaan Ahok yang berani melawan arus dan dengan gagah berani melawan siapa pun yang berbuat jahat, yaitu merugikan apalagi menyengsarakan rakyat.

Yang terbaik tidak mau diidolkan. Memang menolak diidolakan itu sulit, sebab orang yang mengidolakan itu belum tentu berterus terang bahwa ia mengidolakan. Namun, setidaknya, berlaku begitu wajar, biasa, lumrah, dan begitu ada orang yang memuji segera waspada pada gerak batin, jiwa, hati bahwa pujian itu adalah lereng licin yang menjerumuskan kepada kesombongan, atau setidaknya kebanggaan diri. Syukurlah kalau bisa dengan cara halus menolak pujian itu, kalau pun tidak bisa menolak ya jaga hati, jiwa, batin agar tidak merasa tersanjung oleh pujian itu.



Ki Atma