agama dan Kebudayaan

Agama dan kebudayaan

 

Agama-agama yang sekarang diakui oleh pemerintah sesungguhnya adalah agama-agama yang datang ke Indonesia, bukan agama asli Indonesia.  Di antara penganut agama-agama itu para penganut Kristen dan Islam ada yang anti dengan kebudayaan asli Indonesia, antara lain adalah kenduri. Tidak semua pemeluk Kristen dan Islam anti kebudayaan. Ada juga yang tidak memusuhi bahkan cenderung berdamai dengan kebudayaan. Pemeluk agama selain keduanya (Islam dan Kristen) cenderung  akomodatif dengan budaya asli Nusantara. Terlebih pemeluk agama Hindu, sehingga Hindu Bali berbeda dengan Hindu di India, sebab begitu menyatu dengan  budaya asli Nusantara, sehingga akhirnya sulit dibedakan mana yang budaya Nusantara dan mana yang Hindu.

Sikap akomodatif juga dilakukan oleh pemeluk Islam dan Kristen. Diyakini bahwa Indonesia, terlebih Jawa Tengah, di Islam-kan karena penyebaran agama Islam tidak memusuhi kebudayaan asli penduduk, melainkan justru mengadopsinya. Tokoh yang sangat dikenal adalah Sunan Kalijaga. Ada banyak seni yang hingga sekarang masih hidup dan dijalankan oleh warga masyarakat diyakini diciptakan dan diperkenalkan oleh Sunan Kalijaga. Wayang purwa, misalnya, diyakini adalah ciptaan Sunan Kalijaga. Banyak tembang yang juga diasalkan kepada Sunan Kalijaga, contohnya, Ilir-ilir, Kidung rumeksa ing Wengi, dsb.

Di lingkungan Kristean, di Jawa Tengah ada dua tokoh yang terkenal menyebarkan agama Kristen dengan "njawani" atau berdamai dengan budaya Jawa. Kyai Tunggul Wulung yang mewartakan agama Kristen di sekitar Gunung Muria (Pati dan sekitarnya) dan Kyai Sadrach yang menyebarkan kekristenan di sekitar Purworejo.

Di lingkungan pemeluk kedua agama itu juga muncul sikap kritis terhadap cara penyebaran agama yang akomodatif itu. Meskipun diakui bahwa penyebaran agama Islam yang berdamai dengan kebudayaan itu sangat berhasil, terutama dewasa ini ada juga pemeluk agama Islam yang tidak setuju bahkan dengan terang-terangan menentang praktek-praktek budaya atau tradisi Jawa yang sudah di-Islam-kan. Salah satu contoh, kenduri atau yang juga disebut "selamatan" yang doanya sudah diganti dengan doa Islam dan sudah dipraktekkan sejak jaman Sunan Kalijaga, sekarang dipersoalkan. Praktek itu dianggap syirk atau musyik. Agar supaya menjadi orang Muslim yang benar, dianjurkan untuk tidak melakukan praktek itu.

Di lingkungan Kristen perlawanan terhadap praktek menyesuaikan agam Kristen dengan budaya Jawa yang dilakukan Kyai Tunggul Wulung dan Kyai Sadrach sudah dilakukan sejak awal. Para penyebar agama Kristen dari Belanda menentang mereka, dan mengharuskan orang yang ingin memeluk agama Kristen harus meninggalkan dan menanggalkan kejawaannya. Semua yang berbau Jawa, bahkan hingga pakaian pun, harus ditinggalkan dan ditanggalkan, lalu diganti dengan meniru semua yang dipakai dan dijalani oleh para penginjil (penyebar agama Kristen) Belanda itu. Akibatnya, sejak awal umat Kristen gamang bahkan anti budaya asli.

Belakangan ini di lingkungan para pemeluk Islam, khususnya oleh NU diserukan Islam Nusantara.  Setidaknya dari sebutan Islam Nusantara dapat ditebak arah yang hendak dicapai yaitu menjadi Islam yang tidak anti dengan Nusantara, juga budayanya.

Demikian juga di kalangan pemeluk Kristen, khususnya di lingkungan Gerjea Krisren Jawa (GKJ) sejak 2006 diperkenalkan dan terus dikembangkan berteologi lokal. Sikap yang tidak menghakimi tetapi bersedia mempelajari sehingga tahu secara lengkap budaya yang hidup dan dihidupi oleh masyarakat dan segala persoalan nyata (konkret) di masyarakat. Ada tiga kata kunci dalam program berteologi lokal ini, yaitu menghormati, memberi tempat dan memberi perhatian.

 


Komentar