Tergusurnya Dunia Anak


Akhir-akhir ini ada tantangan yang cukup viral dari Deddy Corbuzier kepada Pak Jokowi. Salah satu tantangan itu sebenarnya cukup mudah : Pak Jokowi diminta menyanyikan lagu anak yang diciptakan sepuluh tahun terakhir. Mudah? O.. tunggu dulu.... adakah memori kita menangkap lagu anak yang diciptakan sepuluh tahun belakangan ini? Seingat saya... terakhir kali saya mendengar dan mendendangkan lagu anak yang cukup populer adalah lagu Jangan Takut Akan Gelap, ciptaan Erros yang dinyanyikan Tasya dan Duta tahun.... 2004. Sudah lebih dari sepuluh tahun.... tidak masuk hitungan tantangannya om Deddy.

Entah apa yang terjadi dengan industri musik anak kita. Ketika tahun 90-an ada banyak sekali artis cilik dengan lagu anak yang memang sesuai dengan dunia anak, seperti Ria Enez-Suzan, Agnez Monica, Eza Yayang, Meisy, Bondan Prakosa, Trio Kwek-kwek... hingga periode 2000-an masih tersisa Tasya, Sherina, hingga Tina Toon. Tapi setelah artis-artis itu tidak cilik lagi, industri musik anak sepertinya juga ikut tenggelam. Dan apa dampaknya? Anak-anak kehilangan dunianya! Mereka mulai menyanyikan lagu-lagu orang dewasa yang tentu bukan untuk konsumsi mereka. Ketika diadakan lomba nyanyi anak, yang dinyanyikan bukan lagu anak tapi lagunya orang dewasa. Mereka seolah dipaksa memahami apa itu rasa kangen, cemburu, selingkuh, pisah ranjang, perceraian, dan masih banyak lagi hal-hal yang belum saatnya menjadi dunia mereka. Setelah mereka tahu hal-hal tersebut akhirnya semua itu terbawa ke dalam kehidupan sehari-hari mereka. Maka tak heran kalau ada anak SD pacaran dan mereka menyebut pasangannya dengan Papi-Mami. Dan ketika bertengkar terucaplah kalimat, “Kamu itu belum dewasa!!”... Ealah... bocah... bocah...

Tantangan Om Deddy itu menurut saya sebuah tantangan retoris semata. Tidak perlu dijawab dengan cara Pak Jokowi menyanyikan lagu anak-anak. Tapi jawabannya dengan mengembalikan anak-anak ke dunianya. Jangan biarkan mereka tersesat di kedewasaan sebelum waktunya. Lagu anak itu penting untuk menjaga kekanak-kanakan mereka! Mari kita kembalikan anak-anak ke dalam habitatnya yang benar. (DPP)