PEMBATAS

Seringkali terjadi agama, tepatnya lembaga agama, itu menjadi pembatas dan pembeda antar manusia. Orang yang satu dibedakan dan dibatasi keberadaannya oleh agama yang secara formal atau resmi dipeluknya. Pembedaan dan pembatasan keberadaan itu ditentukan oleh lembaga agama yang diikuti, ajaran dan aturan agama yang dilakukan, pemimpin agama yang diteladani. 
Berdasarkan paham yang demikian ini, maka beriman dimaknai lebih sebagai keterikatan orang itu dengan lembaga agama yang diikuti. Lembaga agama Kristen, misalnya, menganggap sebutan beriman itu hanya bagi mereka yang memeluk agama Kristen. Sedangkan yang tidak memeluk agama Kristen adalah bukan orang beriman. Lembaga agama lain juga memiliki anggapan yang demikian. Anggapan demikian itu juga menjadi penentu sikap terhadap orang lain. Kalau mereka yang dianggap beriman disikapi dan diperlakukan sebagai saudara, maka mereka yang dianggap tidak/bukan beriman disikapi dan diperlakukan bukan sebagai saudara. Bahkan bisa terjadi orang lain yang dianggap tidak beriman itu bukan hanya tidak atau bukan saudara melainkan tidak atau bukan manusia. Anggapan, sikap dan perlakuan demikian inilah yang menyebabkan ketegangan hubungan, bahkan perselisihan hingga perang antar agama. 
Dengan memahami dan meyakini bahwa agama itu dilahirkan (dikaruniakan) demi kebaikan, kesucian, kemuliaan hidup umat manusia, maka selayaknya anggapan, sikap dan perlakuan itu diubah. Beriman itu bukan (lagi) dihubungkan dengan lembaga agama, tetapi dengan laku atau praktek hidup. Kristen, misalnya, itu artinya pengikut Kristus. Ke-pengikut-an Kristus itu bukan diukur dari keterikatan dan keterlibatan dengan lembaga agama Kristen, tetapi dari laku atau praktek hidup yang menjalankan ajaran Yesus Kristus. Ajaran utama atau sentral Yesus Kristus adalah cinta-kasih yang tercermin dalam keberanian berkurban demi hidup orang lain. Maka siapa pun juga, beragama apa pun, bahkan sekalipun seseorang itu tidak beragama, tetapi menjalankan cinta-kasih, berani berkurban demi hidup orang lain, orang itu adalah orang beriman dan mesti disikapi serta diperlakukan sebagai saudara. Persaudaraan dengan demikian didasarkan bukan pada keterikatan dan keterlibatan dengan lembaga agama, tetapi dengan laku atau praktek hidup, perbuatan nyata. Hanya dengan demikian maka pembatas itu dirubuhkan dan dihapuskan. Orang yang satu dengan yang lain dipertemukan dan dipersatukan berdasarkan harkat dan martabatnya sebagai manusia, dan laku atau praktek hidup yang dijalaninya



Ki Atma