tangan dan kewenangan


seorang kawan [yudhi ahmad tahjudin] bertanya di status facebook dia, mengenai perubahan cara orang mencium tangan: mengapa sekarang tidak dikecup tapi disentuhkan pada pipi atau dahi?
saya tidak tahu jawabnya, tapi saya malah tertarik mengenai kebiasaan cium tangan itu sendiri.

cium tangan saya ketahui pertama-tama dari tradisi gereja. di situ, ketika orang mencium tangan, ia mencium cincin jabatan yang dikenakan oleh orang yang dicium. seorang uskup -misalnya- memiliki cincin jabatan sebagai gembala, demikian pula bapa paus di roma, mereka memilki jabatan khusus yang -katakanlah- menentukan hidup-mati umat. jabatan yang amat penting, sehingga menghormatinya menghormati kewenangannya adalah dengan mencium cincin jabatannya.

dalam terang pemahaman itu, tidak terlalu mengherankan bila juga dikenal kebiasaan mencium tangan guru, kyai, atau orang-orang yang dianggap lebih tinggi posisinya. mencium tangan adalah mencium atau menghormati jabatan, kewenangan bagi yang diciumnya. dengan atau tanpa cincin di tangan tadi.

sementara, kewenangan atau jabatan itu adalah prestasi, buah karya, buah dari ngasta, buah dari pekerjaan yang dilakukan sebelumnya. sehingga bisa dimengerti bila ketika kita mencium tangan, kita menghormati kerja, karya. usaha manusiwi untuk mengolah dunia yang kotor ini agar jadi tempat nyaman yang manusiawi.

mencium, tidak jauh dari pengertian mengendus, membaui dengan hidung. Namun, mencium juga berarti mengecup dengan bibir. namun pada masa kini, kita menjumpai tindakan mencium yang tidak menggunakan hidup maupun bibir. mencium tangan seorang guru, dulu dilakukan murid dengan menempelkan hidung atau bibir pada punggung tangan guru. sekarang punggung tangan guru itu ditempelkan pada kening atau pipi. lokasinya pindah, dari sekitar hidung dan bibir, lalu meluas ke kening atau pipi.
apa penyebanya?
saya tidak tahu. barangkali kesadaran baru akan higiene, ketika orang menyadari bahwa bekerja itu akrab dengan kekotoran, kekalutan, chaos, yang harus ditangani, ditata, diatur, 'dibersihkan' agar menjadi lebih baik.
bisa jadi.

--
anto