small is beautiful [but big is powerfull]



tidak berselang lama setelah peringatan kebangkitan yesus, KOMPAS memberitakan di tanggal 20 april lalu, bahwa di papua hendak dibangun patung yesus.
besar sekali patung ini.

konon ini diinspirasi dari patung serupa yang di brazil. juga di banyak tempat lain yang membangun patung yesus atau ibu maria.
lalu, apa yang mendorong orang untuk membangun monumen segede itu? untuk keperluan umat, tentunya tidak. tidak hanya itu, maksud saya. masak iya untuk kepentingan umat saja harus mengerahkan dana sedemikian besar dan dimensi patung yang juga amat besar?

pembangunan monumen, entah patung tokoh spiritual entah bangunan religius, dalam ukuran besar-besaran, rupanya sudah dari dulu dikerjakan orang. monumen berupa patung buddha sudah sejak awal masehi dibangun umatnya di pakistan utara. ada yang dalam posisi duduk bermeditasi, ada yang berdiri, dan ada pula posisi tidur. 

demikan pula bangunan.
basilika santo petrus vatican itu luar biasa besar dan luasnya. halaman depannya yang dinamai juga dengan nama santo petrus, pun adalah muara dari jalan-jalan di kota mini vatican tadi sehingga kompleks gereja vatican nyaris sebesar kotanya sendiri.

ismael kadare pernah menulis novel bagus tentang pendirian piramida.
struktur segede gunung yang gak jelas fungsinya ini -selain untuk mengubur manusia yang sudah tiada- dibangun untuk kepentingan stabilitas kekuasaan.
ketika negara beranjak makmur, banyak orang kemudian merasa ingin bicara dan berkuasa. untuk mengalihkan kelimpahan kemakmuran ini harus dibuat suatu proyek besar yang menguras kekayaan mereka. harus dibuat proyek yang melampaui imajinasi, sehingga rakyat tetaplah tertahan sebagai rakyat, tidak mengaku-aku calon pengganti raja yang sedang berkuasa! 

jadi, demikian pembacaan saya atas novel tadi, sebelum bangunan religius itu berfungsi secara rohani, ia sudah berfungsi di dunia ini: menggerakkan seluruh warga masayrakat untuk ambil bagian di dalamnya. bisa untuk membuat patung, makam, bangunan ibadah... yang ukuran maupun biayanya melebihi imajinasi.

pada hemat saya, novel kadare tadi menyinari persoalan kita, mengapa selalu saja ada yang ingin membangun bangunan gede-gedean. tidak lain karena ini adalah investasi, bakal punya nilai ekonomi lewat para tamu [disebut dengan takzim dengan peziarah bukan turis] yang berdatangan di waktu-waktu yang akan datang.

agaknya bisnis isu agama seperti ini masih tetap laku di masyarakat kita. orang beragama seringkali bersikap emosional, mengesampingkan akal budi, kalau sudah berhadapan dengan urusan surga dan neraka... 
bagi penguasa, emosi keagamaan itu adalah energi, potensi, atau modal penting untuk diubah jadi investasi ekonomi untuk generasi mendatang.
   
--
anto