SIAPAKAH SESAMAKU WARGA NEGARA INDONESIA?

  Petang tadi bersama 40 peserta di Paseban membahas tentang pembangunan transformatif, melawan sikap elitis menjadi partisipatif, mengubah ekslusif menjadi keterbukaan, hirarki menjadi kesetaraan, mengajak menghayati proses lebih daripada capaian target program, apalagi pendekatan proyek sesaat karena yang dituntut adalah komitmen seumur hidup. Semua dengan penuh semangat menjawab  tantangan yang diajukan. Tinggal secara formalitas memilih tim kerja untuk memfasilitasi proses lanjut sebagai perwakilan dari semua yang hadir untuk menatanya nanti. 

*** 
  Ada pandangan bahwa sejarah hanya mengulang-ulang peristiwa yang sudah pernah terjadi. Pembedanya hanya lokasi kejadian, pelaku, atau variasi dari motivasi, kepentingan, dan konteks yang kait-mengait menjadikan apa yang terjadi seolah-olah baru, padahal sebenarnya sudah pernah terjadi hanya saja orang tidak mencatatnya sebagai pembelajaran bersama, sudah lupa, dan karena itu terheran-heran kembali saat menghadapinya. Pandangan yang berbeda sebaliknya menyatakan, sejarah seperti garis lurus. Zaman berubah, yang lama sudah ditinggal di belakang, yang baru menjelang siap atau tidak siap kita menghadapinya. Apakah memang benar demikian? 
  Hanya berselang seminggu sesudah bom atom menghancurkan Hiroshima dan Nagasaki, kemerdekaan Indonesia diproklamasikan. Gerakan nasionalisme yang muncul di awal abad ke-20 membangkitkan kesadaran berbangsa dan bernegara mengatasi perbedaan suku bahasa ras dan golongan-golongan yang hidup di wilayah Nusantara. Soempah Pemoeda 1928 mendeklarasikan tekad sebagai satu bangsa, tanah air, dan bahasa yang satu: Indonesia. Melengkapi sumpah yang diikrarkan diperdengarkanlah untuk pertama kali lagu kebangsaan "Indonesia Raja" lewat gesekan biola Wage Rudolf Supratman. Keterwakilan pribumi dalam dewan rakyat Volksraad dan kemudian kolonialisme Jepang mematangkan proses pembentukan negara Indonesia Modern, bukan berdasarkan kesukuan dengan bahasa ibu masing-masing, bukan berdasarkan  agama manyoritas dan minoritas yang sama-sama bukan asli dari bumi pertiwi Nusantara, bukan meneruskan keberadaan kerajaan-kerajaan dengan wilayah dan kekuasaan tradisional yang ada, juga bukan berdasarkan golongan beraneka yang sama-sama mendapatkan hidup dengan segala kelimpahan karunia di bumi tercinta. Pilihan Negara Kesatuan Republik Indonesia adalah buah pergumulan panjang dari Komite Persiapan Kemerdekaan Indonesia, sekaligus pengakuan bahwa itu adalah rahmat Tuhan Yang Maha Esa. 
  NKRI adalah tekad segenap untuk membangun jiwa dan raga, transformasi menjadi negara merdeka, membentuk pemerintah negara Indonesia yang melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial, maka disusunlah kemerdekaan kebangsaan Indonesia itu dalam suatu Undang-Undang Dasar negara Indonesia, yang terbentuk dalam suatu susunan negara Republik Indonesia yang berkedaulatan rakyat dengan berdasar kepada Pancasila (alinea 4, Pembukaan UUD 1945).
*** 
  Minggu ini aku mengenang para korban, dan merayakan kehidupan Indonesia usai peristiwa tragedi  Mei 1998. Minggu depan kembali lagi peringatan hari kebangkitan nasional 20 Mei 1908 – 2017. Seratus sembilan tahun bukan waktu singkat, lebih dari dua kali umur hidup kujalani sekarang. Lebih dari cita-cita luhur pembangunan transformatif yang diproklamasikan, sejarah mencatat pemberontakan demi pemberontak, separatisme kedaerahan, kesukuan, atas nama ideologi dan keagamaan, atas tuntutan keadilan, atas nama pemerataan. Sejarah tidak bisa ditulis hanya oleh para pemenang, sejarah tidak bisa dicatat dengan ancaman peluru dan pedang. Sejarah haruslah menjadi pembelajaran kepada hikmat kebijaksanaan, dan menjadi perayaan ketika keadilan sosial meraja, di bumi seperti sebagaimana didesain di Atas Sana. 
  Tapi peristiwa-peristiwa kekinian bertubi-tubi datang dan menyesakkan pemikiran. Saat kelompok preman berjubah, bersama selebriti ayat-ayat suci, dengan dukungan uang tidak bernomor seri memanipulasi isu penistaan agama untuk kepentingan politik kelompoknya. Aku jadi bertanya, benarkah mereka sesamaku warga sebangsa setanah air di negara kesatuan Republik Indonesia? Apakah kekalahan di pilkada DKI Jakarta juga pertanda kekalahan kita memperjuangkan semangat dan cinta yang mula-mula? Apakah vonis hakim yang mulia dan 23 kali sidang pengadilan yang sangat menguras perhatian dan energi massa mencerminkan negara hukum yang melindungi segenap tumpah darah Indonesia? Terdakwa telah divonis di PN tingkat pertama bersalah dan langsung masuk penjara. Di sisi lain, terkait dengan perkara ini, yang menista presiden dengan caci maki di hadapan 7 juta massa masih bebas tanta kendala, bahkan penista kitab suci dan ajaran agama lain yang setiap kali diperiksa pandai beralasan untuk mangkir sekarang dengan alasan beribadah pergi entah di mana yang jelas tidak ada di Indonesia. 

*** 
  Apakah yang mengkafirkan saudaranya sebangsa itu tetap layak disebut sebagai sesama? Apakah yang dengan sadar mengambil keuntungan dengan membiarkan isu SARA bahkan mungkin sengaja merekayasanya layak disebut sesama?  Apakah kemenangan yang diraih dengan sorak menghina dan merendahkan kontestan yang kalah layak menjadi contoh keteladanan pemimpin dan penguasa? Apakah kelicikan selalu akan menang atas ketulusan? Terlalu banyak kalau hendak melanjut menderetkan tanya.  
Tadi  saat pulang, di kaki langit sebelah timur bulan bundar sisa Waisak menemaniku sepanjang perjalanan, dengan segala pendar keindahan, diiring bintang-bintang, mengatasi kegelapan seputas dan kemilau lampu-lampu penerangan rumah maupun kendaraan di sepanjang jalan. Aku tidak berdoa untuk yang saat ini dikurung dalam sel, sekalipun tetap berharap semoga saja dari balik jeruji jendela sel-nya, keindahan ini boleh menerobos masuk dengan kedamaian dan kesunyian malam ini. Aku berdoa untuk diriku sendiri, mohon dikuatkan untuk bisa mendoakan musuh, memintakan berkat kepada yang menganiaya, dan tetap diberikan kekuatan dan kesabaran menanggung semua ini. Paus Francis mengingatkanku, "humility is the way of holiness". Penghinaan adalah jalan kepada kesucian. Aku tidak mau membalas, hanya menambah rumyam lingkaran setan pembalasan. Tetapi aku sadar juga bukan orang suci yang siap tetap bertindak benar saat menanggung kehinaan dari pihak lain. Yang kuminta hanya keadilan, tetapi keadilan Tuhan jauh melampaui akal pemikiranku yang terbatas.
*** 
Aku menghargai setiap aspirasi lewat aksi karangan bunga, penyalaan lilin, malam doa untuk bangsa dan negara, dan macam-macam gerakan yang saat ini ada. Pasti aku juga akan bergabung bila memungkinkan untuk ikut dan bersama. Itu adalah cara-cara damai, beradab, dan perlawanan dengan cinta. Lebih dari itu, kesadaran yang sudah bergerak harus mengarah ke penghapusan hukum yang diskriminatif,  komunitas pemberdaya mulai dari lingkungan di mana kita berada, membangkitkan perlawanan sipil terhadap premanisme agama, menghentikan pemberhalaan tahta harta dan kuasa, menuju kepada perayaan syukur saat keselamatan kembali bercahaya dengan segala keindahannya.  Benarkah pihak-pihak yang saat ini tidak bersama-sama dengan kita berarti bukan sesama?

salam
Pemulung Cerita, Purwantoro 13 Mei 2017 

YTP