Pekan Suci

Pekan suci adalah sebuah konsep liturgi yang unik. Konsep yang mengajak berpikir serius tentang tata waktu. Karena waktulah manusia mengerti keterbatasannya. Dengan menyadari eksistensi waktulah hidup manusia menemukan kebermaknaan.
Ketika pekan suci menjadi konsep liturgi, tersingkaplah betapa berharganya waktu. Para penulis Injil paham betul soal ini. Waktu-waktu terakhir Tuhan Yesus pun mendapat goresan tinta paling panjang dan detil. Betapa berharga kisah-kisah akhir bersama Tuhan sejak Ia menyusuri jalan dari Betania menuju Yerusalem. Setiap detik menjadi menarik sehingga tersusunlah narasi apik tentang kisah epik penyelamatan. Mata sukma pun dibuat tak berkedip ketika cawan penderitaan itu diangkat oleh tangan kasih Tuhan sendiri.
Pekan suci adalah petunjuk bagi sebuah alasan. Mengapa krida anamnese tiap kali merayakan liturgi menjadi berdaya guna. Dari pekan sucilah alasan mengapa Allah mau bertemu manusia mendapatkan keterangannya.
Tidak lain adalah karena cinta. Karena cintalah waktu menjadi lebih berharga. Berkat cinta pula, gerak tarian waktu menjadi suci. Konse suci di sini jangan melulu diartikan menurut norma moral. Mengikuti Rudolf Otto tentang The Idea of the Holly menjadi pilihan yang lebih asyik. Mengingat, bagi Otto, yang suci itu dapat dicecap lewat indra religiusitas. Artinya ada keinsafan yang selalu menuju pada kekuasaan Hyang Ilahi. Nah, dari sinilah refleksi teologi pekan suci pun dapat terus berkembang di sepanjang zaman. Hal ini menjadi mungkin ketika eksistensi tata waktu liturgi telah menjadi kesadaran sikap religius.
Mengapa gagasan tentang waktu menjadi sedemikian penting dalam teologi liturgi? Tentu kita tak boleh lupa bahwa sang pusat liturgi, Yesus Kristus adalah Sang Alfa dan Sang Omega. Yang Awal sekaligus Yang Akhir. Sekali lagi ini adalah gagasan tentang waktu, tentang Sangkan-Paran. Dalam konteks masa paska, gagasan ini mendapat tempaan lewat istilah pekan suci.
Jadilah, pekan suci sebagai narasi panjang tentang terjadinya waktu penyelamatan. Pekan suci terjadi ketika Hyang Ilahi merangkul derita manusiawi dengan cinta tak terkatakan. Sekalipun untuk maksud itu, tangan itu pun harus terentang di salib.