Hari Minggu Palma ini Memang Beda

Hari Minggu ini memang beda. Bukan sekedar tidak sama, tentu saja. Disebut beda lebih karena kandungan makna yang ada di dalamnya.

Hari ini Gereja memasuki Minggu Palma. Hari Minggu yang dibaktikan untuk memeringati kisah sengsara. Kisah perjalanan seorang raja dari Betania menuju sebuah kota. Tentu saja bukan  kota sembarangan. Kota itu adalah Yerusalem.

Nama Yerusalem menurut Ensiklopedia berasal dari zaman pra-Israel. Tepatnya zaman bangsa Kanaan. Bangsa yang punya dewa bernama Syalem. Nama yang bagi telinga orang Israel dekat dengan syalom yang berarti damai sejahtera. Yerusalem karenanya punya arti sebagai pondasi Syalem, tempat damai sejahtera bertahta.

Dalam perkembangan, Yerusalem disebut kota suci. Nabi Yesayalah yang menjulukinya (Yes 52:1). Tak heran, karena di kota itulah Bait Suci didirikan. Rumah tempat Allah maha suci bertahta dengan megahnya. Harapannya, damai sejahtera pun mengalir dari sana.

Ke Yerusalem, ayunan langkah Yesus menuju. Mengapakah Yerusalem menjadi tujuan? Bukankah kota itu membuat Yesus duduk termenung dan tersedu? Karena banyak nabi dibunuh di situ? Masihkah Yerusalem layak menjadi kota damai sejahtera?

Kisah perjalanan menuju Yerusalem adalah kisah sarat makna. Bukan hanya karena teriakan hosana dan lambaian daun palma yang mengiringi langkah gemulai sang keledai yang ditunggangi-Nya. Itu hanya sekedar asesorisnya dan belum menyentuh eksistensinya. Anehnya, ketika kebaktian Minggu Palma tangan memegang daun palma tetap menggetarkan jiwa. Entah karena apa. Mungkin catatan Matius tentang kata-kata Yesus menjelaskan duduk perkaranya.

"Sekarang kita pergi ke Yerusalem dan Anak Manusia akan diserahkan kepada imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, dan mereka akan menjatuhi Dia hukuman mati. Dan mereka akan menyerahkan Dia kepada bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah, supaya Ia diolok-olokkan, disesah dan disalibkan, dan pada hari ketiga Ia akan dibangkitkan." (Matius 20:18-19)

Perjalanan menuju Yerusalem ternyata perjalanan menghampiri penderitaan hingga kematian. Gema hosana dan lambaian daun palma itu ternyata bukan hanya untuk menghormati perjalananan Tuhan. Mengingat, sejurus kemudian adzan "hosana" itu berganti menjadi kumandang "salibkan Dia!" Ironinya, itu berasal dari mulut yang sama.

Mengapa Dia rela menempuh perjalanan menyusuri tiap sisi penderitaan manusia? Tak hanya menderita karena siksaan fisik tentunya, karena segi batin pun tercabik-cabik ketika dikhianati orang yang sangat dikasihinya. Betapa pedihnya ketika ciuman Yudas menjadi penunjuk bagi penangkapan-Nya. Belum lagi ketika ikrar bakti sang Batu Karang membuat hati meradang gara-gara ayam berkokok tiga kali.

Minggu ini memang beda karena penderitaan justru dirangkul-Nya. Minggu ini istimewa karena tak sampai sepekan kematian berada dalam haribaan-Nya. Itulah yang membuat pekan ini menjadi suci. Sengsara, kematian dan kebangkitan Tuhan lah yang menyucikannya.

Ya, Minggu ini menjadi beda ketika doa Jiwa Kristus menjadi sarana meditasiku pada hari Minggu Palma. Doa yang sama, yang pernah menghantarku bersama istri beradorasi pada Perjamuan Suci. Sesaat setelah kami mendapatkan berkat perkawinan. Doa yang pertama kali kukenali ketika menempuh bimbingan Latihan Rohani Ignasian. Menurut tradisi, doa ini dipercaya disusun oleh St. Ignasius Loyola. Doa yang sangat digemari pendiri Serikat Yesus ini.

"Jiwa Kristus, sucikan aku.
Tubuh Kristus, selamatkan daku.
Darah Kristus, puaskan daku.
Air dari lambung Kristus, bersihkan daku.
Sengsara Kristus, kuatkan daku.
Yesus manis, dengarkan daku.
Dalam luka-Mu, sembunyikan daku.
Jangan Kau biarkan aku terpisah daripada-Mu.
Melawan musuh durhaka, belalah aku.
Di saat ajalku, panggillah aku.
Suruhlah aku datang pada-Mu, agar bersama orang kudus memuja-Mu, sepanjang segala abad. Amin."