WAKTU


Para pemuda yang sedang nonton bareng sepak bola lewat televisi, semula tegang namun tiba-tiba mereka bersorak bersama hingga seolah akan merubuhkan tembok (Jawa: mbata rubuh) ketika kesebelasan yang mereka jagokan mencetak gol.

Salah satu berkomentar: "hebat, hebat. Tukimin memang hebat. Tadi itu, kau lihat to, ia menggiring bola lewat garis pinggir sejajar gawang, tetapi karena belum kelewat maka juga belum dianggap bolanya keluar. akhirnya ia bisa mendapatkan ruang tembak meskipun hanya sempit dan membuahkan gol. Hebat, sungguh hebat. Padahal itu terjadi di menit terakhir, sebelum pertandingan diakhiri."

Setelah pertandingan itu usai, mereka tidak segera membuabakan diri. sambil melanjutkan minum kopi mereka mengobrol. Salah seorang yang kelihatan ndesa, dengan sarung dan kaos oblong yang sudah lusuh berujar: "kita tidak pernah tahu masih berapa lama kita memiliki waktu untuk hidup ini. Mumpung masih ada waktu, kalau pun tinggal sebentar sekali waktu, itu tetap pakailah untuk berbuat kebaikan. Bagaikan bola yang masuk ke gawang. Pakailah kesempatan yang masih kita miliki sekarang ini untuk mencapai tujuan atau gol kita, yaitu menjadi orang baik, berbudi pekerti luhur, mulia aklaknya."

Ia berdiam, menunduk, teringat peristiwa Sang Guru yang sedang diancam hendak dibunuh tetapi tetap saja tampil di muka umum menyampaikan wejangan tentang Kerajaan Allah. Tidak ada seorang pun yang berani mengusiknya. Para pemimpin agama yang sedang geregetan kepada Sang Guru juga tidak mengusiknya, seolah mereka telah berbalik menyetujui Sang Guru. Itu semua karena memang belum waktunya bagi Sang Guru dibunuh. Waktu adalah kesempatan. Kesempatan adalah modal sangat besar untuk berbuat kebajikan.

Yuk, bubar, pulang, sudah hampir pagi, besok kerja, kerja, kerja



Ki Atma