SANG PENISTA

Di hadapan para hakim yang juga berperan sebagai penuntut dan juga saksi yang terbentuk dadakan, tanpa seorang pun pembela, dia yang dituduh sebagai penista disidangkan.
A: kamu memang druhun (ini kata ungkapan marah gaya prabu Baladewa dalam wayang purwa).
B: kamu memang penista agama
C: bukan hanya penista agama ia penista Allah
B: iya, kamu memang kafir, kafirnya kafir
D,E,F,G,H,I,J,K.L...Z: saling bersahutan (Jawa:saur manuk) penista, bunuh, siksa, kuliti, rajam, gantung, sembelih, 
Sang tertuduh lalu mengangkat tangan dan mulai berkata: "kalian ini ada apa (Jawa: kowe dha ngapa ta?)"
Kalian boleh menuduh saya penista, penghina, kafir atau apa pun tuduhan keji yang lain. itu terserah kalian. Akan tetapi aku ini, melakukan apa yang dilakukan oleh Allah. Allah senantiasa bekerja, maka aku juga bekerja. Tidak terbatas waktu, tidak berbatas hari. Hari khusus untuk beribadah memang hari suci. Namun, melakukan tindakan cinta-kasih tidak mengurangi kesucian hari khusus untuk beribadah. Sebaliknya justru membuktikan kesucian hari khusus untuk beribadah itu. Karena aku bekerja, melakukan cinta-kasih, seperti yang dilakukan Allah, maka aku ini adalah Anak Allah. Apa yang salah dengan pernyataanku ini? kalau yang kulakukan berbeda bahkan berlawanan dengan yang dilakukan Allah, tetapi aku mengaku sebagai anak Allah itu jelas penghinaan, pelecehan, penistaan, penodaan. La yang kulakukan ini sama dengan yang dilakkan Allah og. Lalu di mana kesalahan ku?
Sudah sana, bubar kalian, bubar, belum waktunya bagiku untuk dibunuh secara hina og. besok saja ya, salam.