ORANG-ORANG YANG KEBLINGER

Orang-orang membaca bahkan menghafalkan ayat-ayat kitab suci. Untuk apa? katanya, mereka ingin bertemu dengan Sang Mahasuci. Maka mereka menyelidikan dengan teliti kitab suci itu, dengan harapan bertemu dengan Sang Mahasuci yang diwartakan di dalam kitab suci. 
Sayangnya, ketika mereka ketemu dengan Sang Mahasuci, mereka justru menolak, membelakangi, bahkan melawan. Mengapa begitu? Sebab mereka menyelidiki dengan sangat teliti kitab suci untuk memuaskan kehendak dan keinginan mereka sendiri. Mereka membangun konsep-kosep. Juga konsep tentang Sang Mahasuci. Maka ketika mereka bertemu dengan Sang Mahasuci yang tidak sesuai dengan konsep yang mereka bangun dari penelitian dan penyelidikan mereka atas kitab suci itu, mereka menolak bahkan melawan Sang Mahasuci. Memang ketika bertemu dengan Sang Mahasuci, mereka justru dielanjangi hingga diri mereka telanjang bulat. Tentu saja mereka malu dan marah. Sejujurnya tanpa telanjang bulat didepan Sang Mahasuci mereka tidak akan meninggalkan dan menanggalkan konsep-konsep yang telah mereka bangun itu dan mereka pakai sebagai pakaian mereka itu. Sesungguh-sungguhnya hanya setelah ditelanjangi bulat-bulat itu, mereka akan diberi pakaian kesucian dan kekudusan sejati oleh Sang Mahasuci. akan tetapi karena mereka menolak ditelanjangi bulat maka mereka tetap saja ke sana dan ke mari memakai pakaian konsep-konsep yang mereka bangun dari penelitian dan penyelidian atas kitab suci. Meskipun sebenarnya pakaian itu sangat-sangat rapuh dan mudah rusak lalu sirna.
Itulah orang-orang yang keblinger.
Cara hidup orang-orang yang keblinger itu diteruskan hingga kini oleh orang-orang beragama. Itulah beragama yang keblinger. Meneliti dan menyelidiki secara teliti kitab suci, untuk memuaskan diri, membangun konsep-konsep lalu memakai konsep-konsep itu sebagai pakaian diri. Padahal kitab suci itu HANYALAH alat petunjuk untuk bertemu dengan Sang Mahasuci. Yang mesti dipentingkan adalah ketemu dengan Sang Mahasuci. Sayang, sungguh amat sayang, orang-orang keblinger itu justru berhasil memblingerkan banyak orang juga. Tentu saja mereka tidak merasa keblinger. Sebaliknya orang yang dengan tekun meneliti dan menyelidiki kitab suci untuk bertemu dengan Sang Mahasuci, bukan untuk memuaskan diri atau hati sendiri, dan membangun konsep-konsep, justru dituduh sebagai orang keblinger oleh mereka yang sejatinya keblinger itu.
Bagaimana pun juga berbahagialah dirimu kalau tidak keblinger, meskipun hanya berjalan sendiri di jalan sunyi yang sepi.