Tuhan Bermain Debu



Rabu Abu mengingatkan kepada kita kalau manusia itu tercipta dari debu dan akan kembali menjadi debu.

Saya pun merenung, membayangkan... betapa asyiknya Tuhan pada waktu itu ketika membentuk manusia dari debu dan tanah. Ia mengambil segumpal demi segumpal tanah, membuatnya menjadi sebuah bentuk nan unik. Entah Ia memulainya dari kaki atau dari kepala lebih dahulu, tapi yang pasti Ia menikmati setiap pembentukan detail karya-Nya. Saya berangan.... terkadang Tuhan tertawa sendiri... membentuk kaki yang panjang, membentuk perut yang buncit, membentuk lengan yang berotot, membentuk alat kelamin yang imut, membentuk pantat... terkadang pula Tuhan merasa kesal ketika apa yang terbentuk tidak sesuai dengan keingginan-Nya. Ia harus menghancurkannya lagi... membentuk lagi... kurang puas, mengganti ini dan itu... menambal ini dan itu... menghilangkan ini dan itu...

Dan akhirnya, tara..... jadilah debu dan tanah berbentuk manusia.

Kenapa Tuhan memilih debu dan tanah untuk membentuk manusia? Ini merupakan permainan kata semata. Tanah dalam bahasa Ibrani adalah “adamah”, sedangkan manusia itu “adam”. Jadi memang nama Adam itu memiliki asal-usul dari “adamah” yang berarti tanah.

Betapa asyiknya Tuhan?... Tanah yang bentuknya tidak teratur itu dijadikannya menjadi sebuah karya yang menakjubkan! Sexy! Itulah kita!


Tapi sayangnya karya itu tidak akan abadi. Karya itu akan kembali lagi menjadi onggokan tanah. Seindah apapun karya yang tercipta, kelak akan kembali menjadi debu dan tanah. Sepintar apapun kita, sekaya apapun kita, secantik apapun kita, sesexy apapun kita... kelak kita akan kembali jadi debu tanah. Di Rabu Abu inilah kita kembali diingatkan bahwa kita ini tak lebih dari debu. (dpp)