merendah serendah rendahnya


hari minggu lalu, bacaan yang diberikan kepada kami adalah mengenai yesus yang dimuliakan di atas bukit. 
kisah tuturan mateus ini mungkin lebay: sudah dimuliakan, masih ditambah kejadiannya dipilih di atas bukit lagi. 
bukit memang tempat yang lebih tinggi dari tempat tinggal orang. biasanya, orang tidak tinggal di bukit sebab tempat seperti itu susah untuk kegiatan sesehari. bukit lebih cocok untuk kegiatan menyendiri, atau untuk menyiarkan sesuatu agar sebarannya luas, seperti suara atau cahaya.

bacaan yang kami baca itu diletakkan pada akhir masa epifani sebagai puncak pemakluman karya-karya yesus ketika ia tinggal di dunia. saat-saat ia mengajar, bekerja dan berdoa sebagai tukang kayu yang sederhana, yang tidak terlalu tinggi kelasnya dalam masyarakat sejamannya.

sederhana, bahkan merendah, serta ajakan untuk berpihak pada yang lemah adalah tema-tema yang menurut penutur kisahnya diulang-ulangnya dalam pengajarannya. sejak dari caranya lahir hingga caranya wafat, dia diceritakan sebagai guru yang sederhana, yang buat narok kepala untuk tidur pun gak punya. tidak heran bila ketiga muridnya takut [tremendum] dan terpesona [fascinans] ketika ia dimuliakan bersama musa dan elia. mereka baru menyadari, ternyata gurunya yang sederhana itu sebenarnya adalah orang yang mulia.
menurut rudolf otto, takut dan terpesona itu merupakan gejala yang dialami orang yang tengah berada dalam pengalaman rohani. di dalam pengalaman rohani itu ketiga murid sadar tentang siapa guru dia sebenarnya.

tiga hari kemudian,
saya melihat bagaimana seorang gurubesar berlutut untuk dioles dahinya dengan abu oleh muridnya sendiri, yang tengah menjalankan tugasnya sebagai pendeta.
tanpa kata.
dan itu cukup untuk menggerakkan saya ikut mengantri di urutan kemudian, untuk juga berlutut dan membiarkan dahi diolesi abu.

saya tahu tradisi ini.
saya pernah ikut diskusi yang ribut membincangkan mengenai relevansi tradisi ini dalam tradisi jawa kami. namun, mengetahui dan menjalani itu beda jauh. saya tahu, tapi saya belum pernah ikut upacara seperti ini.

dari yang saya lihat tadi: mengajar untuk merendahkan diri itu tidak butuh kata-kata.
hanya teladan saja. terpesona pada apa yang terjadi pada gurubesar tadi, saya pun berbuat mengikutinya.

dalam tradisi jawa, lebu adalah serpihan lembut yang beterbangan bila kena angin. bila dibiarkan ia mengendap di permukaan-permukaan barang dan perabot rumah. ia sering diperlakukan sebagai kotoran sehingga sesekali dikibaskan, ditiup terbang, atau dihapus dengan kain basah...
lebu [dust] dalam tradisi ini bukan sisa pembakaran [ash] , tapi identik dengan kotoran, sehingga harus disingkirkan.

mengidentikkan diri sebagai lebu, adalah merendahkan diri serendah-rendahnya.

​sepanjang hayatnya yesus memberi teladan seperti itu. jadi, klop antara yang diajarkan dengan yang dilakukan. bahwa kemudian ia dimuliakan di atas bukit, itu jelas bukan kerjaan dia, tapi pihak lain, yang dengan otoritasnya berkata: "inilah anakku yang kukasihi, padanya aku berkenan, dengarkanlah ia"

lha kita ini memang rendah. 
tidak perlu merendah-rendahkan diri yang mungkin tidak mudah.
kita ini memang rendah, 
tinggal mengakui saja.
nah,
ya mungkin inilah justru bagian yang susah: ngaku!
--
anto