MALING RAJA, RAJA MALING

Kompas hari ini, Rabu, 8 Maret 2017, di halaman pertama, di bawah judul "DPR Jadi Lembaga Terkorup" diwartakan mulai terkuaknya korupsi amat sangat besar sekali. Korupsi itu mengenai E-ktp, yang dilakukan oleh para anggota DPR RI. KPK sedang menyibakkan kabut yang menyelimuti korupsi e-ktp itu.

Sebenarnya bau busuk yang berasal dari Senayan itu sudah lama tercium oleh masyarakat luas. Akan tetapi, meskipun Indonesia memberlakukan sistem demokrasi dalam bernegara, namun praktek yang terjadi sebenarnya masih bersifat aristokrasi. Mereka yang menduduki jabatan penting dalam pemerintahan baik di bidang eksekutif, legislatif dan yudikatif tidak merasa lagi menjadi abdi masyarakat, tetapi sebaliknya merasa menjadi tuan masyarakat. Mereka selalu ngomong sebagai abdi masyarakat, apalagi kalau sedang ngomong resmi, pidato, memberikan sambutan dalam acara kenegaraan atau kemasyarakatan tertentu, tetapi perilaku mereka sungguh berlawanan dengan omongan itu. Mereka bertindak seolah pemilik negeri ini, dan memperlakukan rakyat sebagai gedibal yang harus hanya tunduk dan menunduk.

Mereka selalu merasa diri benar dan saleh. Karena selalu merasa benar maka tidak ada yang boleh mengritik. Kalau ada yang berani mengritik maka pengritik itu harus dimarahi bahkan dihukum. Foto para anggota DPR yang ditidur ketika sidang sedang diberlangsungkan bukannya membuat mereka mawas diri, merasa malu dan kemudian berbenah diri, melainkan ditanggapi dengan kemarahan, seolah foto demikian itu tidak layak disebarkan. Mereka juga merasa saleh, tidak pernah ada dosa yang mereka lakukan. Ketika tertangkap tangan sedang melakukan transaksi korupsi mereka akan menyatakan bahwa dirinya dizolimi. Itu bukan dosa mereka, tetapi mereka dijadikan kurban penebus dosa orang lain.

Ketika pemilu diselenggarakan, rakyat berbondong ke tempat pemungutan suara untuk memilih wakil rakyat. Sayang, ternyata yang dipilih oleh rakyat itu bukan orang-orang yang bersih, jujur dan berkehendak keras mengabdi rakyat, tetapi maling. Ini jelas sebuah petaka. Yang kemudian membuat petaka itu semakin mencelakakan adalah maling itu menjadi raja. Mereka memang Maling Raja. Karena telah menjadi raja maka mereka pun menjadi Raja Maling. Yang bukan maling tidak akan diberi tempat. Hanya para maling boleh mendapat tempat di lingkaran kekuasaan Raja Maling. Tidak mengherankan Jokowi sang presiden, Ahok yang gubernur DKI, selalu saja diganggu dan sedapat mungkin dijungkalkan dari kedudukan mereka sebab sudah sangat terbukti bahwa mereka sama sekali bukan maling. Jangankan maling harta negara yang besar, bahkan harta negara sedikit sekali saja tidak diambilnya. Apalagi mereka terbukti dengan sangat jelas, telah menyelamatkan harta negara yang sangat banyak. Harta negara yang selama ini selalu menjadi barang jarahan para maling bisa dijaga sehingga tidak tersentuh tangan-tangan maling. Jokowi, Ahok (dan para pejabat bersih dan jujur yang lain, tapi memang yang menonjol keduanya itu) benar-benar menjadi musuh maling, maka harus dienyahkan bahkan dilenyapkan. Keduanya itu bagaikan ksatria suci melawan raksasa jahat.

Pertarungan para maling melawan ksatria suci itu tak ubahnya peperangan Duryudana yang (niatnya) jahat dengan Bima yang (niatnya) suci.  Semoga, sebagaimana kisah di dalam pewayangan, akhirnya Bima yang menang gemilang.

 

 

 

Ki Atma