guru di giri


bathara guru,
sebuah sebutan penghormatan pada sesembahan yang paling utama.
guru -dalam bahasa sanskrit- selain berarti panjang, memang berarti utama. kata yang sama dipakai untuk menamai tiang utama dan paling panjang dalam sebuah rumah jawa: saka guru. juga dipakai untuk mengatur komposisi tembang: guru-laghu, panjang pendeknya suku kata [guru: yang utama, yang panjang, laghu yang pendek].

gelar bathara guru diberikan oleh orang jawa pada para pengajar yang mengajarkan pandangan hidup yang lebih lengkap dan cocok untuk masyarakat agraris seperti masyarakat jawa. dia yang berasal dari tempat yang jauh...negeri atas angin, demikian ia disebut, dihormati karena membuat orang jawa jadi lebih cinta pada tanahnya, lebih hormat pada kekuatan-kekuatan alam di jawa yang harus dihormatinya juga.
dia mengajarkan kekuatan-kekuatan alam seperti bayu, agni, indra, anantaboga dan sebagainya sebagai persona-persona yang bisa marah tapi juga bisa dibujuk dan diajak bekerja sama.  
personifikasi kekuatan alam itu sungguh bermanfaat karena membuat kekuatan alam jadi sahabat yang selain bisa kita mengerti juga bisa diajak kerjasama dalam membangun dunia ini jadi lebih baik.

bathara guru divisualisasikan oleh orang jawa sebagai seorang pengajar yang membawa kendhi berisi air pengetahuan. berjanggut panjang dan berperut njembling atau buncit tanda bagi orang yang sering duduk katimbang jalan-jalan.
kendhi berisi air pengetahuan itu disebut kumbha sehingga bathara guru juga disebut sebagai kumbhayoni.
guru bersemayam di giri atau ardhi, gunung -lokasi yang cocok untuk melihat dunia dengan leluasa, serta cocok untuk menyebarkan suara dan cahaya- dia dijadikan model bagi orang-orang yang ingin membebaskan diri dari keramaian dunia untuk mendapatkan pencerahan budi. mereka ini jadi kelompok orang yang sering dimintai nasihat
karena pandangannya yang luas dan bebas dari kepentingan. mereka punya kuasa atas pengetahuan.
para pengajar ini -berkaitan dengan peran dan lokasi tempatnya tinggal- disebut juga sebagai maha ardhika, atau orang-orang utama yang tinggal di gunung [ardhi=gunung]. maha ardhika diucapkan sebagai mahardhika, kelak akan melahirkan kata baru merdeka: yang diartikan secara baru pula sebagai bebas, lepas. 

bathara guru dengan gelar mahardhika itu dibayangkan sebagai yang bebas dari urusan dunia, tapi diam-diam punya kuasa juga, yakni pengetahuan. hanya dia yang tahu secara lengkap pengetahuan dari asal mula dunia hingga hendak kemana dunia menuju. pendeknya: menjadi pengajar seperti ini merupakan jalan hidup, bukan sekadar gaya hidup. ia mendapatkan statusnya karena proses lama yang mungkin sejak ia dikandung dan dibina dalam keluarga yang dekat dengan suasana itu.

kata guru sekarang ini sudah mengalami perubahan makna, bersama dengan perubahan masyarakat jawa. ada yang masih menjalani peran sebagai pengajar, tapi tidak lagi memperlakukannya sebagai panggilan hidup seorang guru, tidak lagi ada kesatuan dengan lokasi yang hening, horizon pengetahuan yang luas, kebebasan dari kekuatan uang dan politik....dan absennya keteladanan.

tapi ada yang tidak berubah, ada yang tetap memelihara hubungan erat antara pengertian guru dengan lokasi uniknya: giri.

ketika pergi ke imagiri tempo hari saya melihat penghormatan asli orang jawa akan lokasi yang khusus ini. tempat di mana orang-orang yang pantas diteladani ditempatkan dalam keabadian.

--
anto