NATAL ITU SELAMAT

Tema Natal 2016 yang ditetapkan oleh Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI) dan Konferensi Wali Gereja Indonesia (KWI) adalah "Hari ini telah lahir bagimu Juruselamat, yaitu Kristus, Tuhan, di kota Daud"

Semua orang membutuhkan keselamatan. Keselamatan adalah satu-satunya kebutuhan terpenting dalam hidup setiap orang. Setiap kali orang bertemu orang lain, sambil bersalaman pasti menyatakan "selamat" mungkin pagi, siang, malam atau berkenaan peristiwa tertentu seperti halnya menikah, lulus ujian, dsb.

Semua agama yang bersifat missi menawarkan dan mengajak orang lain untuk berpindah ke agama misi saling bersaing bahkan bertanding. Keselamatan diperebutkan, dan bukan dibagikan. Begitulah kalau keselamatan itu berupa asumsi, harapan, impian, keyakinan.

Keselamatan mestinya konkret, nyata. Keselamatan itu mestinya dapat dirasakan sekarang, bukan hanya diharapkan atau diyakini saja. Agama-agama yang saling berebut mengajak orang bergabung dengannya sesungguh-sungguhnya, sebenar-benarnya, sebetul-betulnya, sejatinya berebut kesia-siaan, seperti berebut tulang tapi yang tanpa isi (sumsum). Lalu seperti apa kiranya keselamatan yang konkret, nyata, dirasakan dan dialami sekarang dan di sini itu?

Di kalangan orang Jawa, khususnya yang hidup di desa, yang kekerabatan atau persaudaraan antar tetangga itu sangat kuat, setidaknya ada dua ungkapan tentang selamat. Pertama, ketika seseorang datang bertamu, si tuan rumah akan bertanya "apakah anda datang dengan selamat?" (Jawa: "kanthi slamet ta tekamu?") dan si tamu akan menjawab "ya, tidak ada halangan apa pun" (Jawa: "iya, ora ana alangan apa-apa"). Selamat itu tidak ada halangan apa pun. Tidak ada ancaman apa pun. Natal itu selamat, artinya dengan adanya Natal maka tidak ada ancaman bagi hidup manusia. Apa pun juga yang mengancam hidup manusia tersirnakan karena Natal. Sehingga semua orang hidup dengan aman. Oleh sebab itu sungguh ironis sekali ketika di hari Natal umat kristiani beribadah harus dijaga oleh aparat keamanan. Sebab memang ada ancaman. Adanya bom yang meledak ketika umat kristiani sedang beribadah adalah bukti adanya ancaman itu. Kenyataan ini merupakan tantangan bagi umat kristiani. Natal itu selamat, tidak ada ancaman, berarti umat kristiani mempunyai tanggung jawab untuk memperjuangkan hidup aman, tidak ada ancaman. Adanya bom yang meledak, mencelakai bahkan membunuh umat kristiani yang sedang beribadah natal itu karena ada yang membenci umat kristiani. Kebencian itu pasti karena hubungan atau relasi yang tidak baik dan benar. Ada prasangka, kecurigaan, kekuatiran dan ketakutan yang menghantui sehingga hubungan menjadi tidak baik dan benar. Umat kristiani harus mengupayakan bahwa berjuang keras agar hubungannya dengan siapa pun juga menjadi baik dan benar. Prasangka, kecurigaan, kekuatiran dan ketakutan dapat dihapus dan diganti dengan persuadaraan yang rukun dan ramah. Cara satu-satunya adalah bertemu, bersahabat dan akhirnya bersaudara. Tanggung jawab ini tentu bukan hanya tanggung jawab umat kristiani tetapi tanggung jawab seluruh komponen bangsa Indonesia. Seluruh komponen bangsa Indonesia harus mampu membuktikan bahwa bangsa Indonesia yang berbeda-beda suku, agama, ras dan golongan (SARA) itu dapat hidup rukun-ramah, bukan hanya saling bertoleransi tetapi berperikemanusiaan yang adil dan beradab.

Kedua, ketika ada perjumpaan dengan saudara, sahabat, teman, dsb pasti saling bertanya "selamat to anda?" (Jawa: "slamet to?") dan yang ditanyai akan menjawab "ya, tidak kurang suatu apa" (Jawa: "iya, ora kurang sawiji apa"). Selamat itu tidak kurang suatu apa. Cukup makan dan minum sebagai kebutuhan dasar, dan mungkin juga papan perumahan, sandang dan lain-lainnya. Selamat itu sejahtera. Tercukupkan kebutuhan untuk keberlangsungan hidup. Ini juga tantangan bagi umat kristiani, yaitu untuk mengusahakan bahkan memperjuangkan kesejahteraan. Penyebab utama hidup yang tidak sejahtera itu adalah kemiskinan, kebodohan dan keserakahan. Ketiganya harus dihapuskan. Umat kristiani mempunyai tanggung jawab untuk mengatasi penyebab utama hidup tidak sejahtera ini. Kemiskinan dan kebodohan harus dihapuskan dan keserakahan harus dilawan. Koperasi sebagai cara terbaik mengatasi kemiskinan, pendidikan baik formal maupun informal untuk mengatasi kebodohan harus semakin ditumbuh-kembangkan. Kampanye melawan keserakahan harus terus menerus digaungkan. Setiap orang, demikian juga komunitas kristiani tidak hidup terpisah dari orang lain, maka saling menolong, membantu, bahkan membela itu adalah kewajiban bersama. Tentu tanggung jawab mengatasi penyebab utama hidup tidak sejahtera itu juga menjadi tanggung jawab seluruh komponen bangsa khususnya pemerintah. Sila ke-5 dari Panca Sila, yaitu keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia, tidak dapat lagi ditunda. Itu harus diwujudkan sekarang.

 

SELAMAT NATAL, SELAMAT BER-SELAMAT

 

Ki Atma