MANUSIA

Ramlan Sibutar-butar, terduga perampok yang membunuh korbannya, yang tertembak mati dikuburkan di TPU Kalimulya 3,  Cilodong, Depok. Yang hadir dalam pemakaman itu hanya keluarga yang jumlahnya sekitar 10 orang. Seorang Pendeta memimpin pemakaman itu dengan cara video call. Begitu warta di Merdeka.com tanggal 30 Desember 2016.

Membaca berita itu hati saya sedih, bahkan sangat sedih. Ramlam, mungkin merupakan penjahat yang kejam dan sangat jahat. Orang banyak mungkin juga sangat geram atas perilakunya yang jahat itu. Akan tetapi, Ramlan tetap seorang manusia. Jasadnya bukanlah bangkai binatang. Betapa pun jahatnya seseorang, jasad orang itu tetaplah jasad manusia. Jasad orang itu mempunyai nilai kemanusiaan yang jauh lebih mulia daripada bangkai binatang. Karena nilai yang mulia itu maka jasad orang yang sewaktu masih hidup merupakan penjahat, bukan dibuang atau dikuburkan begitu saja tetapi dimakamkan dengan upacara. Apabila orang itu beragama tertentu, maka pemakaman orang itu dilakukan dengan upacara agama tertentu itu. Ramlan dimakamkan dengan upacara agama Kristen.

Nilai kemanusiaan jasad orang yang sewaktu hidup merupakan penjahat itu harus diberi penegasan kuat. Bisa terjadi karena rasa geram atas perilaku jahatnya sewaktu masih hidup, jasad orang itu tidak dihormati sebagai bernilai kemanusiaan. Ketika ada orang yang diduga sebagai teroris, misalnya, ada keberatan jasad orang itu dimakamkan di pemakaman tertentu. Penolakan itu menunjukkan adanya anggapan bahwa jasad orang yang mati dengan cap teroris itu tidak mempunyai harga kemanusiaan, sehingga tidak boleh di makamkan di pemakaman tertentu itu.  Kalau pun jasad itu dianggap mempunyai harga kemanusiaan, tetapi sedemikian kotor yang bisa mengotori pemakaman itu. Maka harus ditolak dimakamkan di situ. Anggapan demikian ini juga terjadi atas jasad orang beragama tertentu, yang tidak boleh dimakamkan di pemakaman umum.

Ramlam memang dimakamkan di pemakaman dengan upacara agama. Yaitu agama Kristen. Pendeta yang memimpin upacara itu tidak hadir di tempat, dan ia upacara pemakaman itu dilakukan dengan cara video call. Di Merdeka.com tidak disebutkan alasan pendeta itu tidak hadir di pemakaman, dan melakukan upacara dengan video call. Mungkin ia sangat sibuk, mungkin ia sedang sakit, atau alasan lain. Saya membangun gegambaran saya sendiri, mungkin hal itu terjadi karena alasan kemajuan teknologi komunikasi. Pendeta itu sedang berada di tempat yang jauh dari Depok, sehingga tidak bisa hadir ragawi di TPU Kalimuya. Andaikata pendeta itu sedang berada di tempat yang jauh dari Depok, tidak kah lebih baik dan lebih bertanggung jawab meminta tolong pendeta yang ada di dekat TPU Kalimuya atau Depok. Saya membayangkan tidak mungkin tidak ada pendeta di dekat TPU Kalimuya atau Depok. Sulit juga saya bayangkan kalau pendeta di dekat TPU Kalimuya atau Depok tidak bersedia dimintai tolong memimpin upacara pemakaman itu. Saya sendiri seorang pendeta, dan kalau saya yang diminta tolong demikian itu pasti akan saya lakukan. Beberapa hari lalu, saya juga memimpin upacara pemakaman seseorang yang beragama Kristen, yang menjadi anggota gereja di Sala. Karena dimakamkan di Purwodadi maka pendeta gereja itu menyerahkan kepada saya agar saya memimpin upacara pemakaman, dan saya lakukan sebagai panggilan atau penugasan dari Tuhan sendiri.

Saya juga membangun gegambaran, mungkin alasannya adalah kemajuan teknologi komunikasi. Karena sekarang sudah ada alat untuk melakukan video call maka pendeta itu tidak hadir di pemakaman.  Akan tetapi apakah karena adanya kemajuan teknologi komunikasi itu dapat mengabaikan kehadiran fisik (ragawi) di pemakaman untuk memimpin upacara? Apakah dengan adanya tablet atau hp sudah dapat dipertanggung-jawabkan orang beribadah tidak membawa Alkitab tetapi cukup tablet atau hp? Alkitab pun berubah menjadi Altablet atau Alhp?  Setidaknya saya tidak akan melakukan hal itu. Kehadiran fisik (ragawi) itu bagaimana pun penting sebagai ungkapan rasa hormat terhadap jasad orang itu, meskipun ketika masih hidup orang itu penjahat. Rasa hormat terhadap harga kemanusiaan pada jasad orang itu. Betapa pun jahatnya seseorang ketika masih hidup, jasadnya tetap saja berharga sebagai makluk paling mulia, terlebih roh-nya itu berasal dari Allah sendiri, dan keutuhan (jasad dan roh) orang itu  adalah gambar dan peta Allah.

 

 

 

Ki Atma