LEBIH DARI SEKADAR TOLERANSI

Tanggal 24 Desember malam, di malam Natal, umat Kristiani akan memadati gedung gereja. Seluruh anggota keluarga bersama-sama beribadah. Bahkan ia atau mereka yang jarang beribadah minggu pun, di malam Natal akan menyempatkan diri untuk beribadah. Lagu-lagu Natal bergema dari dalam gedung gereja. Doa khusuk dipanjatkan.  Sedang di luar gedung gereja, petugas keamanan, polisi, Banser, TNI berjaga agar ibadah bisa berlangsung dengan aman. Orang beribadah terpaksa dijaga sebab memang ada ancaman.
Selayaknya ditengah kekhusukan beribadah di malam Natal, umat Kristiani di Indonesia khususnya, mengheningkan cipta untuk mengenang Riyanto. Riyanto adalah anggota Banser (Barisan Anshor Serbaguna) yang menjadi "juru selamat" bagi umat Kristiani Mojokerto yang sedang beribadah di malam Natal pada 24 Desember 2000. Ia menemukan bom dan berusaha untuk membuangnya tetapi bom itu meledak sebelum terlemparkan. Riyanto gugur ketika berjuang melindungi umat Kristiani yang sedang beribadah di malam Natal.
Dikabarkan bahwa di daerah perang seperti di Palestina pun di hari raya keagamaan orang dapat menjalankan ibadah dengan aman, tetapi di Indonesia justru orang beribadah harus dijaga oleh aparat keamanan. Ironis memang. Di masyarakat yang mengaku beragama, ada ancaman serius yaitu pembunuhan kepada orang yang sedang beribadah. Padahal semua agama menyatakan bahwa ajarannya baik, mulia, luhur. Lagipula, sudah berulang kali dikumandangkan pentingnya toleransi dalam kehidupan bersama. Masyarakat Indonesia itu terdiri atas berbagai suku, agama, ras, antar golongan (SARA) maka semua harus bertoleransi. Kata "toleransi" selalu diucapkan bahkan berulang kali dinyatakan oleh setiap pejabat pemerintah yang sedang menyampaikan kata-kata sambutan atau pengarahan atau wejangan di setiap kesempatan.  Akan tetapi, di kenyataan sosial toleransi itu belum benar-benar mewujud. Salah satu indikatornya adalah masih ada ancaman di ibadah malam natal sehingga aparat tetap merasa perlu menjaga tempat-tempat yang dipakai untuk menyelenggarakan ibadah malam natal.
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia kata toleransi dijelaskan sebagai berikut: bersifat atau bersikap menenggang (menghargai, membiarkan, membolehkan) pendirian (pendapat, pandangan, kepercayaan, kebiasaan, kelakukan, dan sebagainya) yang berbeda atau bertentangan degan pendirian sendiri.
Kata yang menentukan pemaknaan toleransi dalam penjelasan di KBBI itu adalah menenggang, yang juga dijelaskan sebagai menghargai, membiarkan, membolehkan. Seseorang atau sekelompok orang beragama non-Kristiani memiliki toleransi kepada umat Kristiani ketika ia atau mereka menghargai, membiarkan, membolehkan, tidak menganggu umat Kristiani baik keberadaannya, maupun kegiatan termasuk ibadahnya. Sikap demikian itu menunjukkan bahwa sejatinya memang ada sekat yang membedakan agama yang satu dengan agama yang lain, dan sekat itu tidak dirusak, tetapi juga tidak diperkuat. Orang beragama tertentu berada terpisah dengan orang beragama lain, dan keduanya tidak saling mengganggu tetapi juga tidak saling membantu. Dalam paham dan keyakinan yang demikian ini maka ada himbauan untuk tidak mengucapkan selamat natal kepada umat Kristiani. Akan tetapi, yang dilakukan oleh Riyanto (alm) itu melampaui toleransi.
Pengurbanan diri Riyanto (alm) jelas bukan hanya toleransi dalam arti menghargai, membiarkan, membolehkan umat Kristiani beribadah Natal. Riyanto (alm) telah bertindak sangat lebih jauh daripada toleransi. Ia telah mengabaikan himbauan untuk mengucapkan selamat Natal, tetapi ia berada di tempat umat Kristiani sedang beribadah malam Natal, dan ketika ia tahu ada bahaya mengancam umat Kristiani yang sedang beribadah itu ia menyingkirkan ancaman yang berbahaya itu dengan akibat ia sendiri menjadi korban. Dapat ditebak motivasi Riyanto (alm) menyingkirkan ancaman yang berbahaya itu adalah rasa kemanusiaan. Ia menyamakan dirinya dengan umat Kristiani yang sedang beribadah. Sebagaimana dirinya tidak mau ada ancaman terhadap dirinya, juga umat Islam, demikian ia juga tidak rela ada ancaman terhadap umat Kristiani.
Motivasi Riyanto (alm) itu adalah sila ke-2 dari Panca Sila, yaitu kemanusiaan yang adil dan beradab. Hubungan antar umat beragama akan merupakan hubungan yang sungguh-sungguh harmonis, diwarnai persaudaraan sejati, ketika hubungan itu adalah hubungan yang didasarkan pada kemanusiaan yang adil dan beradab. Memperlakukan orang lain persis seperti diri sendiri. Bukan hanya menenggang adanya umat beragama lain, atau bertoleransi, tetapi lebih dari itu, bersedia saling menolong, membantu, bahkan membela demi hidup manusia. Orang beragama lain itu adalah manusia yang persis dengan diri sendiri, maka juga diperlakukan persis dengan diri sendiri.
Sebenarnya di Indonesia, khususnya di desa-desa, perilaku demikian itu sudah menjadi tradisi atau kelumrahan. Meskipun berbeda agama, tetapi umat Kristiani ikut terlibat sepenuhnya dalam membangun masjid, demikian pula kalau umat kristiani membangun gereja maka umat Muslim juga membantu sepenuhnya. Tidak jarang panitia pembangunan rumah ibadah itu justru diketuai oleh orang yang berbeda agama. Mereka memang berbeda agama tetapi kegiatan-kegiaan keagamaan saling disemarakkan. Merupakan pemandangan yang lumrah di desa-desa ketika hari raya idul fitri keluarga-keluarga kristiani bukan hanya ikut terlibat, tetapi juga menjadi penyelenggaran, antara lain dengan membuat ketupat, opor ayam, dll, menyediakan uang untuk hadiah bagi anak-anak kecil, baik yang muslim maupun yang kristiani, yang berkeliling ke setiap keluarga untuk menyampaikan permohonan maaf dan selamat idul fitri.  
Ke depan, ketika warga bangsa ini yang berbeda-beda agamanya, bukan hanya sekedar bertoleransi dalam arti menenggang, menghargai, membiarkan, membolehkan, tidak mengganggu umat beragama lain, tetapi melaksanakan sila ke-2 Panca Sila, yaitu kemanusiaan yang adil beradab, memperlakukan orang lain persis seperti dirinya, maka suasana hidup bangsa Indonesia ini sungguh diwarnai dengan suasana rukun-ramah, damai-sejahtera. Sehingga potensi dan energi dapat dimanfaatkan untuk membangun  bangsa dan Negara dan bukan hanya terkuras untuk perkara yang mencederai apalagi merusak-binasakan kemanusiaan.



Ki Atma