DEMONSTRASI dalam DEMOKRASI

Kompas, Selasa 29 November 2016, memberitakan wawancara dengan Prabowo Subianto yang antara lain menilai "…..demokrasi adalah system pemerintahan terbaik dan sudah teruji di banyak Negara."

Demokrasi memang bukan sistem yang sempurna. Akan tetapi demokrasi adalah sistem yang paling baik. Kelebihan nya dibandingkan dengan sistem yang lain adalah adanya terbagikannya kekuasaan dan adanya kontrol terhadap penggunaan kekuasaan. Hanya dalam sisterm demokrasi ada tiga pemegang kekuasaan yang ketiganya itu mempunyai status atau kedudukan sejajar, yaitu legislatif, eksekutif dan yudikatif. Hanya dalam sistem demokrasi ada kontrol  terhadap penggunaan kekuasaan. Bukan hanya eksekutif dikontrol oleh legislatif, tetapi bahkan rakyat pun berhak melakukan kontrol baik melalui wakilnya yaitu legislator maupun melalui lembaga mandiri (civil society) antara lain pers. Hanya dalam sistem demokrasi peran dan fungsi rakyat itu bukan hanya peserta (partisipator, yang di-ikutkan) tetapi mempunyai hak melakukan kontrol terhadap segala kebijakan dan pelaksanaan kebijakan penguasa.  Semua itu tidak ada di sistem yang lain. Apalagi sistem kerajaan. Memang ada yang meyakini bahwa Negara yang didasarkan pada hukum agama, yang hukum agama itu diyakini berasal dari Allah adalah sistem terbaik. Akan tetapi belum pernah ada bukti di dunia ini Negara ideal berdasarkan agama. Sebaliknya Eropa justru menjadi bukti Negara yang didasarkan pada agama (yaitu Kristen) itu justru merusak bahkan menghancurkan harkat dan martabat manuisa. Kemanusiaan di(ter) korbankan karena kebijakan yang didasarkan pada (ajaran) agama. Sebab kebijakan berdasarkan agama itu tidak (boleh) dipertanyakan apalagi digugat (dibantah). Hanya harus dipatuhi. Padahal tanpa kontrol, penggunaan kekuasaan itu selalu korup, terselewengkan. Akibatnya penguasa selalu benar dan yang memusuhinya atau yang dianggapi memusuhinya selalu salah. Melawan penguasa dianggap sama dengna melawan Allah dan harus dimusnahkan.

(Sekali lagi) tidak ada bukti Negara yang didasarkan pada agama yang sungguh-sungguh mewujudkan nilai luhur, sebaliknya justru menjadi Negara yang cenderung totaliter. Penguasa selalu benar dan pihak lain yang memusuhi atau dianggap musuh harus dimusnahkan.

Meskipun demokrasi itu sistem terbaik dari antara sistem-sistem lain, tetap saja ada kelemahan atau kekurangannya. Salah satunya adalah kemungkinan terjadinya kemacetan atau kemampatan komunikasi antar pemegang kekuasaan dan pengontro kekuasaan. Dalam kondisi dan situasi demikian maka demo bisa atau layak dilakukan. Demo itu berfungsi bukan untuk memaksakan kehendak, tetapi untuk membuka pintu komunikasi atau dialog yang semula macet atau mampat itu.

Harus tetap diwaspadai juga bahwa demo (rakyat) itu bisa berubah menjadi demon (iblis). Demokrasi bisa berubah menjadi demonkrasi. Ketika demo yang semestinya menjadi alat untuk membuka saluran komunikasai atau dialog yang macet atau mampat itu menjadi kerusuhan maka sejatinya demo itu telah berubah menjadi demon. Rakyat telah menjadi iblis, sama dengan penguasa yang menutup dialog atau komunikasi dengan sesama pemegang kekuasaan atau bahkan dengan rakyat itu sejatinya adalah iblis.

 

Ki Atma