Selamat Ulang Tahun, Pasamuwan Ngori



Salah satu pasamuwan atau yang biasanya disebut pepantan GKJ Purwodadi adalah pasamuwan (pepanthan) Mluwo. Sejak saya pertama kali ikut melayani di GKJ Purwodadi pada 1976, pasamuwan Mluwo sudah ada. Gedung gereja atau tempat ibadah pasamuwan ini terletak di dusun Coran. Di dusun itu hanya ada dua (2) keluarga Kristen, selebihnya para warga yang beribadah di Mluwo itu tinggal di dusun lain yang berjarak 3 hingga 7 km. Beberapa di antara mereka tinggal di dusun Semak dan Ngori, yang kira-kira 7 km dari Coran itu. Setiap minggu mereka rajin beribadah dengan berjalan kaki sebab pada waktu itu belum ada jalan (resmi). Mereka harus mengatasi kesulitan karena jarak dan tidak ada jalan untuk bisa beribadah di hari Minggu. Meski demikian, mereka rajin dan setia ikut serta dalam ibadah di setiap hari Minggu. Kesulitan semakin bertambah ketika hari hujan, tanah menjadi lumpur sehingga tidak jarang mereka harus berjalan di lumpur bahkan kadang terjadi lumpur itu cukup dalam hingga mengubur betis hingga batas lutut. Di samping itu mereka harus menyeberangi sungai yang kalau hujan deras pasti banjir. Sebenarnya hanya ada satu (1) sungai tetapi mereka harus menyeberanginya sampai 4 bahkan 6 kali memotong kelokan-kelokan sungai yang satu itu. 

Di suatu hari setelah ibadah kuajak mereka bercakap. Kutawarkan kepada mereka daripada mereka yang berkesulitan (ngrekasa) untuk beribadah, apakah mau beribadah di Semak atau Ngori. Saya (hanya) seorang kalau harus mengatasi kesulitan itu daripada mereka. Tawaran itu mereka sambut dengan sangat gembira. Maka ada yang menawarkan rumahnya dipakai sebagai tempat ibadah. Sejak tahun 1990 mulailah warga gereja yang semula beribadah di Mluwo, beribadah di Ngori, di rumah salah seorang warga gereja. Setahun kemudian mereka beriur membeli sebidang tanah dan bergotong royong membangun rumah ibadah. Pada 1 November 1991 saya dan beberapa saudara dari Purwodadi hadir ke Ngori untuk meresmikan dimulainya pembangunan rumah ibadah di Ngori, sebuah rumah yang dibuat dari kayu jati. 

***

Di GKJ Purwodadi, yang mempunyai beberapa pendeta, sudah menjadi kebiasaan para pendeta saling bertukar pelayanan. Tidak jarang jadwal memimpin ibadah (khotbah) pendeta berubah mendadak sebab para pendeta saling sepakat pelayanan oleh pendeta meskipun bukan yang terjadwal. Yang sering terjadi, kalau saya mendapat tugas ke desa, Pdt. Tyas bertanya "Mbahe ngersake teng ndesa napa kitha." kalau ditanya begitu saya ya pasti menjawab "Lha nek kok tari aku ya pilih sing cedhak, neng kutha. Aku biyen wis nate ngrekasa eg." Jadwal pelayanan pun berulang kali berubah. Tugas saya digantikan oleh Pdt. Tyas dan tugas Pdt. Tyas saya yang menjalankan. Memang sesungguhnya di tahun 1990-an sering saya harus dengan susah payah menuju ke Ngori sebab memang belum ada jalan. Pernah pula saya harus berjalan kaki dengan lumpur sebatas lutut sejauh lebih dari 5 km ketika hujan deras mengguyur. Oleh sebab itu tawaran Pdt. Tyas saya terima dengan senang. Dia yang masih lebih muda sekarang genti merasakan ngrekasa meskipun ke-ngrekasa-an sekarang tidak sebanding dengan dahulu. Tingkat kesulitan dahulu lebih tinggi daripada yang sekarang. Sebab sekarang sudah ada jalan. Juga sudah ada jembatan. Semua itu pada waktu dahulu belum ada. 

Karena berulang kali terjadi jadual pelayanan ke Ngori digantikan oleh Pdt. Tyas, dalam suatu sidang majelis, yang saya menjadi pemimpin sidang itu, seorang penatua muda minta waktu untuk berbicara. Setelah dipersilakan, ia berulang kali mengucapkan memohon maaf (nuwun sewu). Dengan suara yang agak tertahan ia berucap "Kriyin niku Ngori sing ngedege rak mbah Ma, la saniki mbah Ma mboten nate tindak Ngori niku kersane pripun. Nuwun sewu lo mbah..." Ha ha dadaku serasa dipukul palu godam. Kujelaskan bahwa bukannya saya tidak mau, tetapi kalau ditawari mas Tyas untuk memilih ya saya milih yang "kepenak" sebab dulu sudah pernah "ngrekasa" biar sekarang genti mas Tyas yang merasakan "ngrekasa" meskipun ke-ngrekasa-an mas Tyas belum/tidak sebanding dengan ke-ngrekasa-an saya dulu. Dan kutegaskan "Sesuk yen ditari aku tak milih nyang Ngori wis, timbang kok sengeni meneh wekekekekekkk". Kami pun tertawa. 


Minggu yang lampau, ketika kami memimpin anak-anak katekumen retreat dengan live ini di penduduk desa (tinggal di keluarga Kristen atau muslim) di ngori, saya diaulat oleh penatua muda itu (orang yang sama), "Mbahe kedah teng nggriya kula." Saya pun diboncengkan menuju ke rumahnya, yang berada di puncak bukit pembatas kabupaten Grobogan dan Sragen. Sekitar 2 km ke arah selatan ada daerah Tangen, Kabupaten Sragen.
Pasamauwan Ngori yang berani menegur saya adalah pasamuwan yang mencintai saya.


***

Sekarang warga gereja pasamuwan Ngori dapat beribadah di tempat ibadah yang dekat dengan tempat tinggal mereka. Salah satu keluarga yang paling jauh tinggalnya dari tempat ibadah itu adalah penatua muda yang bersedia menegur saya karena jarang melakukan pelayanan di Ngori. Keluarga itu tinggal di dusun Paker, yang jaraknya sekitar 7 km dari Ngori. Jalan ke dusun itu baru saja ini dibangun. Jalan itu berupa das tu (watu padas) yang kalau hujan masih becek dan licin. Untuk beribadah minggu di Ngori, apabila hujan mereka harus menempuh perjalanan "ngalang" yaitu mencapai jalan raya Sragen-Kuwu lalu berbelok ke arah desa Ngori, yang dari jalan raya Sragen-Kuwu itu kurang lebih 5 km dengan kondisi jalan sangat jelek, yaitu berbatu besar atau jalan tanah biasa yang kalau hujan berubah menjadi lumpur. Keluarga ini masih harus bergelut dengan kesulitan (ngrekasa) karena jalan yang sangat jelek. Kalau sampai mereka tidak ikut serta dalam ibadah, layak dimaklukmi, tetapi mereka selalu rajin dan setia ikut serta dalam ibadah meskipun dengan mengatasi kesulitan di zaman modern sekarang ini. 


Hari ini pasamuwan Ngori berulang tahun, merayakan berkat dan penyertaan Tuhan. Selamat ulang tahun pasamuwan Ngori, teruslah bertumbuh dalam pelayanan di masyarakat untuk menghadirkan Kerajaan Allah, pulihnya manusia sebagai gambar dan peta Allah dan alam sebagai firdaus. Kupuji kegigihanmu mengatasi kesulitan (ngalami ngrekasa) di zaman modern sekarang ini.

_Ki Atma