HATI dan MULUT

Kebanyakan, kalau bukan semua orang, menganggap mulut itu cermin hati. Yang diucapkan itu cermin isi hati. Orang yang mulutnya kotor, ember, suka berkata kotor (Jawa: misuh), hatinya juga kotor. Akan tetapi, kenyataannya (realitas sosial) ada orang yang hatinya bersih dan bisa atau bahkan sering berkata kotor. Kata-kata kotor yang dilontarkannya itu merupakan ungkapan bahwa dia tidak suka bahkan marah atas kondisi dan situasi atau perilaku orang yang dinilainya kotor atau rendah, hina, menjijikkan, jelek, jahat. Salah satu contohnya, ibu Risma, walikota Surabaya yang marah dan berkata kotor "bajingan" ketika taman Bungkul rusak karena diinjak-injak orang-orang yang berebut eskrim. Umpatan itu dilontarkan sebagai ungkapan hati bersih yang muak melihat perilaku rendah, bejat, kotor, menjijikkan, jelek bahkan jahat yaitu tidak menghargai keindahan yang dibangun oleh kerja keras dengan dana besar yang berasal dari rakyat. Jadi, kata kotor atau umpatan itu tidak selalu menunjukkan isi hati kotor. Sebaliknya, justru bisa menunjukkan isi hati bersih. Kata kotor itu ungkapan hati kotor ketika kata kotor atau umpatan itu dilontarkan menyikapi atau menanggapi kondisi dan situasi atau perilaku mulia. Ketika ada pejabat yang baik, yang menutup kemungkinan terjadinya korupsi, lalu mereka yang biasanya melakukan korupsi marah-marah dan mengatari kotor atau mengumpat si pejabat bersih itu, kata kotor atau umpatan itu adalah sungguh-sungguh, benar-benar, betul-betul, ungkapan hati kotor, jelek, jahat.

 

Kecenderungan berkata kotor itu juga dianggap sebagai indikator ke-beradab-an seseorang. Orang yang beradab tidak suka berkata kotor, sebaliknya orang yang suka berkata kotor itu (dianggap) tidak atau kurang beradab.

Yang mesti disikapi secara kritis adalah ukuran keberadaban. Ada yang menganggap keberadaban seseorang itu diukur dari status sosial orang itu. Orang yang mempunyai status sosial tinggi, kaum elite (Jawa: priyayi) itu beradab, sedangkan orang yang status sosialnya rendah, rakyat jelata, apalagi orang desa terlebih lagi desa terpencil itu kurang beradab. Ukuran ini sesungguhnya tidak tepat, bahkan sungguh-sungguh salah. Keberadaban itu selayaknya bukan diukur dari status sosial tetapi dari perilaku. Mereka yang perilakunya rendah, menjijikkan, jelek, jahat itu tidak beradab, sebaliknya yang perilakunya luhur, mulia, baik, benar, itu beradab.

Tidak jarang kaum elite (priyayi), yang mempunyai status sosial tinggi, justru tidak beradab. Contoh paling nyata adalah para koruptor. Mereka itu ada yang menjabat sebagai "wakil rakyat" (mewakili rakyat menikmati kekayaan, kemewahan, dll karena sudah diwakili maka yang diwakili tidak perlu merasakan semua itu). Ada yang menjadi petinggi, pemegang kekuasaan Negara. Juga para pegawai negeri yang katanya abdi masyarakat itu, banyak bahkan mungkin semua (?).  Mereka itu jelas berhati kotor dan berperilaku rendah, menjijikkan, jelak, jahat. Sedangkan rakyat, orang desa, terlebih orang desa terpencil justru berhati bersih. Mereka berperilaku luhur. Mereka cenderung menghindari tindak tidak baik, apalagi perilaku durjana. Mereka itu sungguh beradab.  Oleh sebab itu kalau rakyat mengatai kotor kepada para yang disebut "wakil rakyat" atau penguasa, atau pegawai negeri yang katanya "abdi masyarakat" karena perilaku kotor, rendah, menjijikkan, jelek, jahat mereka, kata kotor itu keluar dari hari bersih yang terbukti dari perilaku luhur, mulia, baik, benar. Kata kotor yang ditujukan kepada mereka yang berstatus sosial tinggi, kaum elite, tetapi sejatinya, sesungguhnya, sebenarnya, sebetulnya tidak beradab.

 

Keberadaban seseorang juga sering diukur dengan tingkat pendidikan. Semakin tinggi tingkat pendidikan seseorang, dia semakin beradab. Ukuran ini sebenarnya juga tidak (selalu) benar. Sebagaimana sudah disebut, keberadaban seseorang selayaknya diukur dari perilakunya, bukan diukur dari tingkat pendidikan. Meskipun orang berpendidikan tinggi tetapi kalau perilakunya jelek bahkan jahat, orang itu sungguh tidak beradab. Sebaliknya meskipun orang tidak berpendidikan (formal) apa pun, namun perilakunya mulia, luhur, ia adalah orang yang sangat beradab. Kenyataannya, tidak sedikit orang berpendidikan tinggi yang tidak bermoral, berperilaku jahat. Ada yang menjadi plagiator. Ada yang ijiazahnya palsu. Ada yang studinya di perguruan abal-abal. Lagipula alam ini rusak karena keserakahan manusia yang dimulai dari pengetahuan atau penguasaan ilmu pengetahuan tetapi diselewengkan bukan untuk kemajuan peradaban melainkan merusak peradaban. Penggunaan pestisida, pupuk kimia, dll, juga penggunaan bahan pengawet untuk makanan yang diproduksi adalah contoh penggunaan ilmu pengetahuan yang diselewengkan untuk kepentingan keuntungan diri, yang mengakibatkan kerusakan bahkan penghancuran kehidupan, penghancuran peradaban. Sebaliknya, hingga kini, (setahu saya) para "Sedulur Sikep" tidak menyekolahkan anaknya di sekolah formal, namun mereka adalah guru bahkan pejuang pelestarian alam. Orang-orang desa yang hanya mengenyam pendidikan rendah tetapi mereka bersikap jujur dan memperlakukan orang lain persis dengan dirinya (tepa selira). Mereka adalah orang-orang yang sangat beradab.

Di Indonesia ini orang yang akan menjadi "wakil rakyat" juga pejabat di segala lini pemerintahan harus mempunyai ijazah, lulus dari pendidikan formal. Semakin tinggi pendidikan yang ditempuh, semakin tinggi jabatan yang bisa diraih. Akan tetapi Indonesia ini rusak karena korupsi, juga benturan antar kelompok/golongan dipicu oleh orang-orang yang berpendidikan tinggi tetapi miskin moral. Sebaliknya rakyat, orang kebanyakan, orang desa itu pada umumnya berpendidikan rendah tetapi mereka memiliki moral. Mereka itu sesungguh-sungguhnya, sebenar-benarnya, sebetulnya, sejatinya, adalah orang-orang beradab. Kalau mereka mengatai kotor, mengumpat orang-orang berpendidikan tinggi tetapi tidak bermoral itu, karena hati mereka bersih, sebaliknya orang yang berpendidikan tinggi tetapi tidak bermoral itu adalah orang yang tidak beradab, orang rendah, menjijikkan.

 

Berkata kotor biasanya juga (dianggap) terkait dengan watak atau tabiat seseorang. Orang yang berwatak pemarah, (dianggap) cenderung berkata kotor. Memang orang yang sedang marah cenderung tidak bisa mengendalikan ledakan emosinya, yang salah satu pelampiasan ledakan emosi itu adalah berkata kotor. Orang yang sebenarnya berwatak atau bertabiat santun, baik hati pun kalau sedang marah tidak mustahil mengeluarkan kata kotor.  Oleh sebab itu layak terus belajar mengendalikan diri, emosi, agar kalau marah pun tidak sampai mengatai kotor orang lain. Cara terbaik melatih mengendalikan diri adalah bermeditasi. Cara lain, yang dibuat oleh orang Jawa, adalah dengan "menghaluskan" bahasa. Orang yang menggunakan bahasa karma inggil akan sulit mengatai kotor orang lain. Kalau ada orang yang sedang marah, meskipun semula menggunakan karma inggil, akan mengubah menjadi bahasa ngoko. Ini yang disebut "nungkak karma." Dengan mengubah penggunaan bahasa ngoko orang bisa bebas mengatai kotor orang yang menjadi sasaran kemarahan atau luapan emosinya. Orang tidak mungkin mengatakan sambil berteriak "panjenengan pancen segawon" tetapi ia akan mengubah bicaranya dengan ngoko dan meneriakkan "kowe pancen asu"

 

Berkata kotor itu bisa juga terjadi merupakan budaya atau tradisi suku bangsa. Orang Jawa Timur, misalnya, terkenal cenderung berkata kotor (d)jancuk, misalnya. Meskipun itu merupakan kata kotor namun kata itu seolah sudah terbebas dari kekotorannya. Ketika diucapkan tertuju kepada seseorang, orang yang dituju tidak merasa di(ter) hina dengan kata itu. Sebab si pengucap juga tidak berniat atau memiliki motivasi merendahkan orang yang dikatai itu. Kata kotor itu telah berubah fungsi menjadi media mempererat ikatan persaudaraan dan pelebur batas antara orang yang mengucapkan dan orang yang dituju dengan ucapan itu.  

Dalam suku bangsa yang mempunyai tradisi (budaya) demikian kata kotor, dengan demikian, bisa menjadi ungkapan kegembiraan, ketakjuban atau kekaguman. Di lingkungan Yogyakarta kata "edan" biasana menjadi ungkapan kegembiraan, ketakjuban atau kekaguman itu. "Edan, apik tenan tontonane" (gila, tontonannya sungguh bagus). Sedang di Jawa Timur-an mungkin hal itu diungkapkan dengan "bajingan, apik tenan tontonane"

Di antara suku-suku bangsa di dunia ini agaknya suku bangsa Jawa paling kaya (memiliki banyak sekali) kata kotor. Kata kotor itu berupa binatang: anjing, babi, dll, anggota badan:  matamu, endhasmu, dll, kondisi tidak normal: dhengkulmu mlocot, gandhmu minger, endhasmu penyok, dll. Perilaku: omonganmu (biasanya diungkapkan dengan cangkummu atau lambemu), picek kowe ya (padahal orangnya tidak buta), dll.  Silakan mencari yang lain lagi, dirimu ahli misuh ta wekkkkkkkkkkkk

 

Memaknai kata kotor itu mesti sesuai konteks.  Menilai seseorang hanya dari kata kotor yang diucapkannya bisa salah nilai, salah paham.

 

 

Ki Atma