(BUTA) CAKIL


Dalam setiap pertunjukan wayang purwa (kulit) maupun orang, selalu ada adegan yang disebut dengan perang kembang. Yaitu perang antara seorang ksatria melawan para raksasa yang dipimpin oleh Cakil. Ada juga pertunjukan fragmen (Jawa: pethilan) yang biasanya disebut "bambangan-cakil" yang juga menggambarkan perang antara seorang ksatria (bambang) melawan Cakil.

Dalam adegan itu selalu digambarkan Cakil yang memperagakan bahkan menyombongkan kegesitan gerak dan keahlian memainkan senjata. Cakil meloncat, salto, berguling, dan melempar-lemparkan senjata, yaitu keris, dan ditangkap dengan manis. Seolah di hadapan ksatria (bambang) Cakil menunjukkan ancaman yang sungguh membahayakan si ksatria, yang kelihatannya begitu lemah, sebab badannya tidak kekar, geraknya nampak lamban. Akan tetapi ketika mereka berkelahi maka nampak nyata si ksatria yang tidak kekar dan bergerak lamban itu sejatinya mengandalkan kekuatan batin, bukan kekuatan fisik dan lahiriah. Gerak raga Cakil yang lincah (Jawa: trengginas) selalu dapat ditangkis atau dihindari oleh si ksatria sebab si ksatria memang sudah menguasai ilmu berbagai macam dan jenis perkelahian. Ia tidak perlu menguras tenaga untuk mematahkan gerakan Cakil, tapi cukup dengan sedikit gerakan yang efektif dan efisien. Dan, akhirnya ketika Cakil menggunakan senjata, si ksatria menggunakan ketajaman indera dan batinnya berhasil menangkap pergelangan tangan cakil dan secepat kilat menancapkan keris itu ke tubuh Cakil. Matilah Cakil oleh senjatanya sendiri.

Sebagai pemimpin pasukan, Cakil memiliki bala tentara yaitu pada raksasa. Melihat Cakil terbunuh oleh keris-nya sendiri, mereka marah lalu mengeroyok si ksatria. Namun pengeroyokan itu tidak membuat si ksatria kewalahan, melainkan justru dengan sangat mudah menghabisi mereka secara bersamaan. Ada yang mati dengan sendirinya karena bertabrakan dengan sesama raksasa ketika menyerang si ksatria itu, ada juga dua atau lebih raksasa yang oleh ksatria itu ditangkap lalu diadu kepalanya hingga pecah berantakan, dan akhirnya raksasa-raksasa itu mati, sedangkan yang takut mati segera berebut melarikan diri. Raksasa memang pecundang.

Cakil dan raksasa mati karena ulah dan senjatanya sendiri seperti kata pepatah "senjata makan tuan."

 

Ki Atma