Wangi itu Sakral


Kesakralan kopi itu tidak terletak pada rasanya, tetapi aromanya. Baunya. Betapa nikmatnya menciumi aroma kopi yang telah dipanggang. Kata teman, inilah aroma surgawi. Dan kalau sudah tidak lagi beraroma, kopi pun tidak lagi sakral. Biasanya aroma itu bertahan dua bulan. Lebih dari itu meskipun rasanya tak banyak berubah, tapi kesakralannya sudah tidak ada.


Bebauan itu sakral! Ketika menghadiri layatan, tercium bebauan melati dan pandan yang begitu khas. Bebauan itu membangun suasana. Dalam upacara di rumah duka, ibadah penghiburan itu menjadi sakral ketika tersebar aroma melati dan pandan. Jikalau tanpa bebauan itu, hilanglah kesakralan ibadah penghiburan. Pun demikian dengan ketika pemberkatan nikah. Bunga melati dan sedap malam yang tertata sebagai dekorasi membangun suasana klasik. Sakral. Aroma yang tersebar di ruang pemberkatan membangkitkan gairah tersendiri. Aroma itu dipertahankan pada di acara selanjutnya seperti resepsi ataupun ngunduh manten yang tak lepas dari dekorasi bunga. Gairah cinta kasih itu terjaga melalui bebauan melati dan sedap malam.


Ritual suci umat Katholik, Hindu dan Buddha hampir selalu menyebar bebauan melalui dupa atau hio. Bebauan itulah yang membuat hati menjadi teduh. Seolah Tuhan hadir semakin dekat melalui bebauan yang menyengat. Bebauan itu membantu mereka berfokus akan pada titik : sumber kehidupan.


Sayangnya gereja Protestan kurang terbiasa dengan bebauan yang mewarnai ibadah mingguan. Bisa jadi inilah yang membuat ibadah gereja Protestan itu menjadi kurang sakral. Kurang fokus. Bebauan itu lalu tergantikan dengan bentangan layar LCD yang menyajikan tulisan syair pujian. Jadilah fokus jemaat ada pada LCD. Jika LCD mati, bingunglah jemaat karena kehilangan fokus.


Di cerita Kitab Suci ada perempuan yang mengurapi Yesus dengan minyak wangi. Saya yakin semua orang di tempat itu menoleh atau berpaling menghadap Yesus. Mengapa? Karena mereka terusik dengan bau wangi yang menyengat dan mencari di mana sumber wangi itu. Seisi ruangan tanpa sadar berfokus kepada Yesus. Nah, luar biasa kan apa yang dilakukan perempuan itu? Ia mampu membuat Yesus sebagai pusat perhatian banyak orang! Tapi sayangnya ada yang tidak setuju dan malah memarahi perempuan itu karena boros. Dialah Yudas. Dia tidak setuju ada wewangian tersebar percuma. Dia tidak setuju Yesus menjadi pusat perhatian karena wangi. Ya sudah....


Wangi itu memang tidaklah gratis. Tapi dengan mengupayakan wewangian, kita mengupayakan kesakralan.