sekali-sekali tengoklah kali


​hari minggu yang lalu, KOMPAS menyiarkan foto-foto bersejarah, tentang perubahan kali-kali di ibu kota jakarta. kali-kali itu kali ini bersih, beda dari beberapa waktu sebelumnya, sebelum ada yang peduli untuk membersihkannya.

hal ini mengingatkan perjalanan kami dari yogya ke purwodadi tempo hari. 
berkali-kali kami menyeberangi kali. kali-kali besar seperti gajahwong, opak...hingga yang kecil-kecil banyak sekali yang harus kami seberangi. kali-kali itu mengalir dari gunung merapi di utara menuju laut selatan, sedangkan perjalanan kami memotong jalan mereka dengan berjalan darat dari barat ke timur.

dulu sekali, orang bergerak mengandalkan gerakan air kali: dari udik ke hilir dan sebaliknya dari hilir-mudik, pergerakan lewat kali itu menghasilkan hirarkhi ruang. orang suci menyepi di hulu udik yang biasanya ada di ketinggian gunung atau perbukitan. sedang yang seneng ramai ketemu orang dari berbagai aliran sungai lebih suka tinggal di sekitar muara atau di tempurannya. kota-kota terbangun di sekitar sana. termasuk jakarta, semarang, surabaya.

jalan darat membuat orang-orang terhubung karena kesamaan ketinggian tanahnya. jalan ini bisa dijalani bolak-balik, sebab mengandalkan kekuatan manusia sendiri, binatang atau sumber daya lain untuk pergerakannya. tidak pasif tergantung pergerakan air. jalan darat sudah mengubah cara menghayati ruang, mobilitas orang meningkat dibuatnya.

bila dulu persebaran kebudayaan seturut dengan aliran kali [lihatlah bagaimana bahasa ngapak tersebar mengikuti aliran sungai serayu, misalnya], maka jalan darat -dan nanti kereta api- melahirkan kota-kota baru di di simpul-simpul pertemuannya. kota-kota lama di pinggiran pantai dan muara sungai akan digantikan oleh keramaian kota-kota yang terbentuk karena jalan darat yang bisa dilalui ulang-alik di mana saja. dan sejak itu kali menderita.

kali menderita karena tidak lagi digunakan, tidak lagi ditengok, selain jadi 'halaman belakang' untuk membuang sampah atau terdesak oleh bagian belakang rumah yang membangun kakus di pinggir-pinggirnya.

untunglah, kecenderungan yang mengerikan ini ada yang mencegahnya berkembang lebih parah. dengan menempatkan taman bermain di bantaran kali, kali-kali akan sering ditengok, dikenali tanda-tanda perubahannya.

arus kemajuan itu seperti aliran air kali: maju terus tanpa pernah berbalik arus. dan kali-kali itu tidak lagi jadi jalur transportasi, melainkan jadi kawasan rekreasi. kita menemaninya berubah fungsi...

--
anto