mbayatan di marga utama


empat malam yang lalu, kami berempat mbayatan.
'mbayatan' adalah istilah yang bisa dipadankan dengan wedangan, bila mengingat bahwa para bakul wedangan di sala dan yogya itu umumnya berasal dari desa di barat laut klaten; tembayat. desa yang terkenal sebagai sentra perdaganan di masa lalu sampai sekarang pun, 
desa yang warganya terkenal berjiwa wiraswasta, hal yang barangkali mewarisi semangat orang suci ki ageng pandanaran -pendakwah dari pesisir utara- yang dimakamkan di sana.

marga utama, nama baru untuk jalan mangkubumi, adalah penggal jalan dari tugu putih ke selatan hingga setasion kereta api tugu dan bekas hotel tugu. ruas jalan ini sekarang jadi kawasan yang diramaikan oleh hotel-hotel dan warung-warung jajan di sepanjang tepi jalannya. trotoar jalan ini habis direbut warung-warung bila malam tiba.

kemi berempat pernah bersama-sama tinggal di asrama gkj bandung.

mbayatan kopi joss dari tugu putih ke stasion tugu itu sekarang luar biasa ramainya.
para pelancong yang datang dari stasion tugu mapun yang keluar dari hotel-hotel di sepanjang jalannya memenuhi warung-warung yang komoditasnya itu-itu saja itu;
berbagai jenis sate, nasi kucing dengan berbagai lawuh, tahu-tempe, ceker eyem....dan berbagai gorengan yang selain berminyak, penuh kolesterol, juga nirgizi. ditambah minuman yang serba manis, susu kental manis yang entah apa isinya, serta kopi pahit yang harus dipenuhi gula agar pahitnya tiada...

mengudap di warung wedangan itu jangan mengandalkan lidah, tapi mulut, mata dan telinga. tiga indera yang membangun ruang sosial.

orang-orang yang memenuhi warung itu memang hanya ingin duduk-duduk, ngobrol dan menikmati hilangnya batas-batas aktivitas. makan di situ itu bukan hanya makan thok. minum di situ itu bukan hanya menggelontor cairan ke tenggorokan thok... tapi mata dimanjakan oleh pemandangan riuhnya orang-orang bergerombol menurut ukuran tikar, atau menurut sesuatu yang menyatukan mereka.

di situ, makan dan minum lebur dengan ngobrol dengan kelompoknya maupun dengan kelompok lain dan bahkan juga dengan penjualnya. ada 'ruang bersama' yang hadir di sana.

leburnya batas-batas, atau menggabungnya ruang-ruang yang semula privat jadi 'ruang bersama' itu menyenangkan. ini kita jumpai di banyak peristiwa, utamanya pada momen ketika reuni, atau ketika kita rekreasi meningalkan kerutinan pekerjaan tiap hari.

reuni, per definisi mempertemukan kembali yang semula pernah bersatu lalu berpisah menjadi orang-orang yang baru.
momen reuni jadi kesempatan bertemunya orang-orang yang sudah berbeda satu sama lain itu tapi diikat oleh kenangan yang sama. mereka punya kenangan yang sama tapi sudah dengan jarak. sudah dikonstruksikan dalam kenangan secara subyektif oleh para pengenangnya.

kami berempat saling menertawakan tingkah laku kami di masa lalu, karena kami sudah berjarak dengannya namun sekaligus sulit menghapuskannya. perjumpaan kami jadinya memperkaya hidup, karena kembali ditambahi tafsiran-tafsiran teman-teman yang hadir,mengenai peristiwa-peristiwa lama di tempat yang sama dulu: asrama gkj bandung. dan di yogya, kota yang berjarak ratusan kilometer dari bandung, ada banyak tempat untuk memanggil ulang kenangan.
apa pun kenangan kita.

aneh.
--
anto