TITIK MATI

Seorang interior desainer menata ranting-ranting dan berbagai macam bunga di depan kami. Ia menatanya sedemikian rupa di sebuah vas yang sederhana. Dengan beberapa kali mengubah penataan di sana-sini, kemudian jadilah sebuah rangkaian bunga yang sangat indah dan berkesan buat saya. Bukan hanya karena saya menyukai bunga dan keindahan, namun karena apa yang dirangkai bukanlah bunga-bunga biasa. Menarik, karena rangkaian itu terbentuk dari ranting-ranting kusam, dedaunan yang telah mengering dan rapuh, serta bunga-bunga dengan warna yang pudar. Bukan bunga hidup yang warna-warninya masih semarak dan menakjubkan, melainkan bunga-bunga yang telah kisut, layu, bahkan kering dan rapuh. Sang desainer menceritakan kisah masa kecilnya, bagaimana ia hidup dalam kekurangan dan harus belajar apa arti kata cukup. Sehingga baginya yang menyukai seni dan keindahan, barang-barang bekas dan bunga-bunga ‘mati’ menjadi kawan pembelajaran akan hasrat seninya. Ia belajar menghargai kehidupan, yang bahkan dilihatnya masih ada, jauh setelah kematian dari bunga-bunga itu sendiri.


Manusia sesungguhnya tidak memiliki pengetahuan akan kematian. Manusia tidak tahu dan tidak berhak untuk menyebut suatu makhluk (bahkan dirinya) telah mati. Kapan sesungguhnya kematian itu sendiri terjadi? Adakah satu titik dimana kita dapat menyebut sesuatu itu ‘mati’? Adakah satu momen dimana sebelum momen itu terjadi, kita menyebutnya hidup, lalu setelah itu usai, kita menyebutnya mati? Apakah ketika sekuntum bunga tercabut dari akarnya? Apakah ketika warnanya mulai memudar? Ataukah ketika batangnya mulai kisut dan lunglai? Apakah ketika kelopak-kelopak bunga itu berjatuhan ke tanah? Bukankah manusia sendiri berubah dalam menyatakan kematian dirinya? Ada masanya dimana kita menyebut seseorang telah meninggal, ketika jantung tak berdetak dan tak ditemukan denyut dalam nadinya. Namun, ada pula masa dimana kematian seseorang dinyatakan saat otak tidak lagi berfungsi, bukan jantungnya. Ketika kita bertanya, bagaimana aku dapat hidup, apa jawabnya? "Karena ada ayah dan ibu yang menjadikanku ada," jawaban itu mengasumsikan adanya satu titik awal dimana ‘tak hidup’ menjadi ‘hidup’. Namun, bukankah fetus berasal dari dua sel yang hidup, dan bersatu menjadi satu? Bagaimana mungkin seorang manusia yang tak dapat menjelaskan titik ia mulai hidup, dapat menjelaskan titik ia sudah mati? Ataukah kita selama ini terpaku pada satu sudut pandang, bahwa hidup dan mati dapat didefinisikan dalam satu titik tertentu padahal kehidupan dan setiap momennya adalah bagian dari kekekalan? Seperti energi yang tidak musnah, melainkan berubah dari satu bentuk ke bentuk lainnya, demikian pula kefanaan bukanlah suatu masa pra atau paska kekekalan melainkan ada pada bentuk kehidupan yang sesungguhnya telah ada dalam kekekalan. Maka bila kita sesungguhnya ada di dalam kekekalan itu, dan terus berubah di dalamnya, dimana kita saat ini? Apakah hidup kita bagaikan bunga yang segar karena mengakar? Ataukah hidup kita bagaikan bunga yang layu perlahan-lahan?