LUPA

Dulu, sehabis kami menikah, surat nikah yang diterbitkan kantor catatan sipil dititipkan kepada (alm) Bp. Pdt. Madyo Suwignyo. Seorang pendeta di desa, orang yang sangat sederhana, memiliki cara (Jawa: lagean) yang "luwes" dalam berkomunikasi dengan siapa pun. Ketika saya datang ke kapandita untuk meminta surat nikah itu ia menyatakan lupa menaruhnya. Ia berjanji akan mencarinya dan setelah ketemu memberikannya kepadaku. Setelah beberapa minggu, aku datang lagi untuk menagihnya. Dengan cara yang "luwes" ia berkata: "ora ketemu, jew le, ya apuranen. ha wong lali kuwi ora isa disalahke." (tidak ketemu, nak, ya maafkanlah, sebab orang lupa itu tidak bisa disalahkan). Iya, memang orang lupa itu hanya bisa dimaafkan, tidak bisa disalahkan. Kalau disalahkan ya hanya memperpanjang masalah yang tidak akan selesai, to.

Dua hari belakangan ini saya juga lupa, saya lupa memarkir sepeda saya di dalam pondok. Kemarin sore saya sudah berkata dalam hati (Jawa: ngudarasa) kalau pergi naik sepeda di malam hari saya sering lupa memarkir di dalam pondok , tetapi ketinggalan di luar pondok. Itu karena pintu pondok yang tidak berkunci hanya disantek saja, sehingga saya masuk ke pondok selalu lewat pintu lain (Jawa: lawang butulan). 

Meskipun baru saja ngudarasa, setelah masuk ke pondok saya lupa sepeda saya masih terparkir di luar pondok. Beruntung ketika tadi padi pkl. 04.00 saya membuka pintu pondok sepeda masih terparkir di luar pondok. Tidak diambil orang.

Orang lupa memang tidak bisa disalahkan. Akan tetapi, semoga saya tidak lupa lagi. Meskipun sepeda itu tidak istimewa, namun sungguh berjasa menghantar saya pergi ke desa-desa yang saya tuju. Semoga saja lupa tidak menjadi penyakit sebab itu juga bisa membahayakan.

 

Ki Atma