MAKAN BERSAMA


Di Kompas yang terbit pada hari Selasa, 5 Juli 2016, halaman 7 terdapat tulisan Sukidi, kandidat Ph. D Studi Islam di Universitas Harvard, Cambridge tentang makna idul fitri. Menurut Sukidi makna idul fitri itu bukan kembali ke fitrah atau ke kesucian. Kalau idul fitri itu dimaknai kembali ke kesucian maka para koruptor mendapat pembenaran teologis bahwa dirinya tidak berdosa lagi sebab setelah berpuasa maka kembali ke kesucian. Sukidi lebih memaknai id itu adalah hari raya sedangkan fitri dari al-fitr yang berarti makana. Jadi, idul fitri itu menurut Sukidi lebih tepat dimaknai hari raya makan.

Di desa, kampong halaman, idul fitri cenderung dihubungkan dengan makan (besar) kupat dan opor, sedangkan makanan kecil rengginan, kacang bawang, dsb. selalu tersedia di meja. Apa pun jenis makanannya, sebagai hari raya makan maka yang penting adalah makan.

Sungguh sangat menarik bahwa Kristen mempunyai tradisi perjamuan, yang disebut dengan perjamuan kudus atau di katolik lebih populer dengan sebutan ekaristi. Pada intinya perjamuan itu adalah makan (dan minum) bersama. Jawa mempunyai tradisi kenduri yang intinya juga makan bersama.

Makan bersama, dengan demikian, merupakan paham sentral dalam setiap komunitas. Sebagaimana makanan dan minuman itu merupakan sumber hidup, artinya hanya dengan makan dan minum orang akan terpelihara hidupnya, makan dan minum bersama adalah upacara yang bertujuan menjaga dan bahkan mempererat ikatan kebersamaan anggota komunitas, juga saling mengingatkan untuk membantu, mendukung dan membela. Dengan makan dan minum bersama itu yang disadari bahwa yang lebih utama adalah hidup. Mengatasi perbedaan dan bahkan perselisihan karena alasan apa pun, hidup lebih diutamakan, hidup dihidupi dan dihidupkan. Perbuatan jahat, mencelakai, merugikan pihak lain, menyengsarakan apalagi membunuh adalah tindakan yang bertentangan dengan makan dan minum bersama itu. Sebaliknya memelihara hidup, menumbuh-kembangkan hidup adalah tindakan atau perilaku utama. Merendahkan orang lain, korupsi yang akibat lebih lanjut menyengsarakan rakyat, merusak lingkungan, apalagi bom juga bom bunuh diri itu adalah perilaku rendah, kotor, dan biadab. Sebaliknya menolong orang lain, membayar zakar, memberikan santunan, membakar harapan dan semangat hidup, apalagi membela agar setiap orang hidup dan bertumbuh dalam hidup adalah perilaku mulia, luhur, terpuji, utama.

Ki Atma