Lebaran th 1970

Lebaran th 1970an

Lebaran di kampung halaman bapak/ simbah selalu diawali kenduri di malam hari.

Tetangga & saudara berkumpul di atas tikar, memanjatkan doa, melantunkan pujian seperti wiridan. Ada kurang lebih 30 sd 50 orang banyaknya. Ibu, bulik dan para wanita menyiapkan berbagai makanan & minum. Lelaki dewasa menyiapkan petromak, tikar & menerima tamu. Sementara anak-anak, bermain di hamparan tikar, bermain kartu, tebak-tabakan atau berguling diantara puluhan bantal, sebelum akhirnya dipinggirkan ketika tamu mulai datang. Ramai sekali.

Dalam doa, mereka menyebut kyai & nyai Gumbreg, kyai & nyai Bodho dalam rangkaian kalimat bahasa jawa tinggi yg saya tidak paham artinya. Simbah sering menyebut acara ini, gumbregan yi kenduri utk mendoakan keselamatan ternak & sawah. Anak-anak simbah sudah memiliki keyakinan berbeda saat itu. Mereka tidak duduk dalam lingkaran. Namun demikian, kenduri adalah acara mereka juga.

Di tengah sidang ada tumpeng besar dihiasi aneka rupa makanan lalu ada penganan spt apem, kue cucur. Ketika acara selesai, masing-masing pulang membawa besek berisi makanan.

Siang harinya. Anak-anak muda berkunjung ke handai taulan, mengenakan baju terbaiknya. Anak muda mengunjungi orang yang lebih tua, demikian seterusnya. Kakek termasuk dituakan di kampungnya. Ia tidak kemana-mana, ia dikunjungi dari mana-mana. Sebelumnya, beberapa kali lebaran kami berombongan sowan ke rumah Siwo, sebutan semacam eyang buyut, saat itu sudah berumur di atas 100th.

Saya beberapa kali ikut pemuda, bertandang ke pini sepuh, orang yg lebih tua. Protokol ucapan standar adalah sbb, disampaikan dalam bahasa krama inggil, halus, dalam bahasa formal.
1. Menyatakan maksud kedatangan yi sbg silaturahmi
2. Membawa salam hormat dari orang tua kepada yg dikunjungi
3.Menanyakan khabar, kesehatan, keadaan. Semacam basa-basi, namun tidak bisa dilewatkan.
Urutan tiap orang bisa berbeda. Ada sampai 5 atau 6 angka, baru terakhir menyatakan permohonan maaf, jika terdapat luput & khilaf selama ini.

Tuan rumah membalas ucapan tsb dalam bahasa jawa ngoko, bahasa dari orang tua kepada anak muda.
1. Menerima dengan baik maksud kedatangan
2. Menyampaikan khabar & keadaan baik. Kalaupun ada kesusahan di masa lalu, semua sudah terselesaikan. Menjadi baik akhirnya
3. Menerima permintaan maaf, juga menyatakan maaf lahir batin yg tulus dari sanubari. Baru setelah protokoler selesai, tuan rumah akan menghidangkan makanan & minum.

Saya pernah menemani saudara berkunjung ke 9 rumah & belum selesai sampai senja tiba. Mendengar kalimat yg sama, ucapan yg sama & makanan yg nyaris sama. Capek sekaligus kenyang sekali. Rumah terakhir, yg ia kunjungi adalah rumah simbah saya sendiri. Saya langsung tidur, sementara ia masih mengucapkan hal yang sama kepada simbah.

" Sowan kawula ing mriki, sepindah ngaturaken sungkem pangabekti dhumateng bapa/pepundhen/tiyang sepuh dsb, dsb... Kaping kalihipun, atur pambagyo bilih..... dsb, dsb, ingkang kaping 3 dsb...."

Teman-teman, selamat berlebaran. Jika ada salah kata & sikap selama ini, mohon dimaafkan.

Handaka B Mukarta