KAWAH CANDRADIMUKA


Wisanggeni, anak dewi Dresanala, begitu lahir segera dimasukkan ke kawah  Candradimuka oleh para dewa. Maksudnya supaya Wisanggeni mati dimakan api yang menyala-nyala dengan tak terkirakan panasnya. Wisanggeni memang tidak dikehendaki oleh para dewa, sebab ibunya, Dresanala, yang mengandungkan Wisanggeni itu dikehendaki oleh Dewa Srani, anak Batara Guru, padahal Dresanala itu isteri sah Arjuna. Agar tidak ada halangan untuk menjodohkan Dresanala dengan Dewa Srana maka Batata Guru mengharuskan pernikahan Arjuna dengan Dresanala dibatalkan, dan anak yang masih di dalam kandungan Dresanala dimusnahkan. Akan tetapi, ketika Wisanggeni diumpankan ke api yang bernyala-nyala dengan panas tak terkirakan itu, ia justru dengan tiba-tiba berubah menjadi pemuda dewasa. Upaya para dewa membinasakan Wisanggeni justru berubah mengakibatkan Wisanggeni menjadi pemuda dewasa yang perkasa dan sakti mandraguna, meskipun tanpa aji dan senjata.

Peristiwa yang sama terjadi ketika bayi Tutuka, anak dari dewi Arimbi dan Bima, yang dijagokan para dewa menjadi pelawan Naga Pracona yang sedang mengamuk ke Kahyangan sebab menginginkan dewi Supraba, yang tentu saja ditolak oleh para dewa. Oleh Naga pracona bayi Tutuka itu berhasil dibunuh. Para dewa bingung sebab jagonya terbunuh. Akan tetapi dalam kebingungan mereka itu para dewa membuang Tutuka ke kawah Candradimuka. Aneh, bayi Tutuka bukan binasa oleh api yang menyala-nyala dengan panas tak terkirakan, melainkan justru berubah menjadi pemuda dewasa yang perkasa, dan kemudian bernama Gatutkaca.

Kawah Candradimuka bagi bayi Tutuka dan Wisanggeni adalah tempat yang mengubah bayi menjadi pemuda dewasa yang sakti. Bagi ciptaan lain kawah ini adalah tempat pembinasaan. Kawah Candradimuka menjadi tempat penggodokan atau mematangkan diri dan hidup seseorang. Mereka yang tahan terhadap penggodokan atau pematangan itu akan berubah diri dan hidupnya menjadi orang yang hebat, sebaliknya yang tidak tahan akan musnah-binasa.

Untuk menjadi seseorang yang berarti, berguna, bermanfaat, ia harus melewati masa penggodokan atau pematangan. Masa itu bisa berupa sekolah formal, bisa juga perjalanan hidup yang dari perjalanan hidup itulah pengalaman demi pengalaman membentuk diri dan hidup seseorang itu. Barang siapa lulus dari masa penggodokan atau pematangan itu akan menjadi seseorang yang hebat, sebaliknya yang tidak lulus ia hanya akan menjadi sampah di masayarakat. Masa penggodokan atau pematangan itu memang berat dan sulit. Ini adalah masa prihatin. Setiap orang yang belajar, misalnya, harus menderita. Ia harus membaca dan menulis, yang keduanya itu sungguh melelahkan raga. Apalagi bagi mereka yang menjalani masa penggodokan atau pematangan itu bukan di bangku sekolah melainkan dalam perjalanan hidup. Pengalaman-pengalaman pahit harus dialami dan dirasakan. Lagipula, berbeda dengan yang terjadi dalam lakon wayang, bayi Tutuka demikian juga Wisanggeni yang dibuang ke kawah Candradimuka justru kemudian berubah seketika menjadi pemuda dewasa yang perkasa, masa penggodokan atau pematangan atas diri setiap orang itu harus dijalani selama hidup. Masa pembelajaran tidak pernah berhenti, tetapi harus selalu dijalani. Lulus dari tingkat tertentu meningkat ke berikutnya (SD ke SMP dst) dan ketika sudah mencapai gelar doktor tidak  berarti masa penggodokan berakhir. Ia harus selalu belajar, dan belajar, dan belajar lagi. Demikian pula halnya dengan pengalaman yang satu ke pengalaman lain.

Penggodokan atau pematangan diri itu bagi para bayi dijalankan dengan memberikan vaksin. Ke dalam tubuh bayi dengan sengaja dimasukkan bibit penyakit tetapi sudah dilumpuhkan sehingga tidak akan berkembang menjadi penyakit. Dengan vaksinasi itu maka tubuh bayi memproduksi pelawan bibit penyakit itu sehingga di kemudian hari ketika ada bibit penyakit yang masuk ke tubuhnya, sudah tersiap-sediakan melawan bibit penyakit itu.  Dengan demikian orang itu kebal terhadap penyakit yang sedang menyerangnya. Lalu apa jadinya kalau vaksin yang dimasukkan ke tubuh itu palsu? Tidak mengakibatkan terproduksinya pelawan bibit penyakit?
Semoga pemalsuan vaksin itu tidak terulang selama-lamanya.

Ki Atma