Gereja yang Kosong


photo by: Rudi Rimawan

Entah kenapa, "seneng aja" melihat foto-foto gedung gereja megah yg kosong ditinggal penghuninya, di Eropa. Seneng bukan nyukurin. Seneng karena "melihat sesuatu yg lain & berbeda" sesuatu yg selama ini terabaikan.

1. "Seneng", karena tidak ada yg ngebanggain hal-hal kosong spt arsitektur megah sbg kekayaan atau superiotas agama tertentu, kemegahan bangunan fisik tidak mendistorsi keyakinan seseorang apalagi jatuh pd kebanggaan semu.
2. "Seneng" bahwa keyakinan tetap pilihan sadar & merdeka setiap orang. Negara, ormas militan atau orang lain tidak bisa memaksakan kehendak seseorang utk beragama.
3. "Seneng" karena beragama (ke gereja atau tidak) menjadi sikap & pilihan dewasa, sekalipun itu pilihan pilihan sedikit orang atau jalan tidak populer.
4. "Seneng", setelah melalui pergumulan yg panjang, keadilan sosial bertumbuh baik. Eropa menerima pengungsi asing sekalipun berbeda dan terjadi berbagai gesekan.

Dulu, pdt Stephen Tong sering mengungkapkan ketakutan thd masa yg disebut "post christianity era" yi keadaan spt di eropa skr, ketika gereja mulai ditinggalkan pengikutnya. Saat pertama kali dengar, saya heran. Memangnya, ketika gereja dipenuhi pengunjung, masyarakat & kehidupan sosial sudah baik? Mengapa saat gereja megah dibangun, kolonialisme, perbudakan, penghisapan di belahan negeri lain justru menggila? Mengapa kritik-kritik Engels & Marx thd masyarakat borjuis kapitalis yg membuat dunia begitu tidak adil? Mengapa Multatuli melaporkan penghisapan yg begitu sulit diterima nalar?

Jadi ingat Ahok yg melihat fenomena gereja kosong di Eropa tapi pada saat yang sama melihat anak-anak muda memenuhi stadion sepak bola utk belajar sportivitas, kerjasama/team work, profesionalisme. Ada value yg mereka kembangkan dalam sport dan itu positif.

Orang sehat tidak semestinya terus menerus minum obat. Ada saatnya mereka berhenti minum obat dan melakukan aktivitas normal. Orang yang kebanyakan obat atau bahkan ketagihan obat, sakitnya tak sembuh-sembuh. Demikian masyarakat sehat, tidak perlu menunjukkan ketergantungannya pada agama.

_ Handaka