toko buku tutup, aplikasi buku buka

banyak toko buku sudah ambruk.
terakhir adalah toko buku GUNUNG AGUNG di kwitang, menyatakan tutup.
kasus yang tidak hanya di indonesia terjadi, namun juga di luar negeri, bahwa toko buku toko buku pada bertumbangan.

apakah semangat membaca orang modern turun?
tidak juga. pasti tidak. 
sebab sekarang terlihat di mana-mana orang membaca. malah saking asyiknya membaca sehingga pada cengengesan sendiri dengan hapenya.

iya,
orang sekarang membaca via hape. alat yang dulunya cuma buat mendengar dan bicara, kini bisa untuk membaca dan menulis. ajib!

baru seminggu yang lalu, saya yang tinggal di bantul bisa menikmati layanan pinjam buku iJAK via hape. buku-buku puisi, dan fiksi... dua genre [dibaca zhangr] sastra yang jarang saya beli, kali ini saya baca lewat peminjaman ebooksnya gratis, via aplikasi tadi. buku-buku milik perpustakaan di jakarta sana bisa saya baca di tempat parkir rumah makan di gabusan, bantul.

aplikasi ini diinisiasi oleh gubernur DKI yang sekarang sedang banyak dicaci orang-orang yang kurang menghargai usahanya: ahok. pak ahok menyetujui proyek literasi ini sehingga orang tidak lagi beralasan ini dan itu untuk pergi ke perpustakaan untuk baca buku.

baca [banyak] buku itu sudah suatu keharusan di masa kini. 
bila masih ingin hanya baca satu buku saja, kembalilah ke jaman sebelum renesans eropa.
jaman ketika orang merasa cukup dengan satu buku suci untuk hidup.

bila toko buku bertumbangan, koleksinya pindah ke hape kita.
bahkan buku-buku perpustakaan pun bisa dibawanya, sepanjang saya punya koneksi internet yang terhubung padanya. bukankah keterhubungan itu memang kodrat dari alat komunikasi ini?

hape saya sekarang ini semakin berbobot.
segalanya ada di sana.
bila dulu hanya suara dan kita bicara, sekarang aksara dan apa saja ada di sana.
--
anto