Tersiar Kabar


"Anak itu, anak itu, ya... anak janda yang sudah mau dikubur itu hidup lagi!" Dengan tergopoh dan terkaget-kaget orang-orang di Nain menyiarkan kabar. Sejurus kemudian, kabar itu pun menjadi viral. Banyak orang yang nge-like, nge-share, nge-tweet, me-bc, hingga hebohlah dunia medsos.


Jemaah GKJ Ceper yang jauh dari Nain pun dibuat kaget. "Hah, ada orang mati bisa dihidupkan lagi?" Apalagi baru saja istri Pdt. David dapat arisan. Perasaan kaget pun jadi berlipat. Bisa mendapat arisan saja sudah ndak nyono, ini ada kabar orang mati hidup lagi. Mudah-mudahan ada orang yang berbakat seni tinggi seperti Pak SBY, untuk segera bikin album bertitle "kaget!"


Tidak kaget bagaimana, kalau ada wong mati obah saja bisa medeni bocah, lha ini wong mati malah urip. Benarlah kata lagu, "yen urip goleka dhuwit." Nah, apakah pemuda Nain yang hidup kembali itu oleh Tuhan Yesus dan ibunya kemudian diminta mencari uang?


Rasa penasaran itulah yang mendorong Pdt. Dyan Sunu dari Mbatu segera mempersiapkan reportase secara live. Kamera digital andalan segera ditenteng, dan bersegera menuntun sang kuda besi keluar garasi.


Maklum, pengabdi peristiwa lewat kamera ini tengah mempersiapkan narasi "Janda Menangis" untuk siaran mimbar. "Viral tentang pemuda Nain, anak seorang janda yang hidup tentu melengkapi narasinya", begitulah kira-kira pikirnya.


Tak kalah seru adalah Pdt. Argo dan Pnk. Betharia. Kacamata psikhologi segera dipakai bersamaan untuk mendalami viral tersebut. Rasa kangen Jogja, tempat mereka bertemu dulu, persiapan prewedding yang lagi seru dibahas di grup WA, sepakat diabaikan dulu. Itu semua demi menemukan dampak psikologis Janda Nain yang mendapatkan anaknya hidup lagi. Sekalipun keduanya tetap kekeuh pada opini tentang Jogja yang terbuat dari rindu, pulang dan angkringan.


Sayang, viral yang menggemparkan ini tidak cukup mengguncang GKJ Purwantoro. Konsentrasi gereja yang berbatasan dengan Jawa Timur ini tetap pada peristiwa peneguhan dan pelerehan majelis. "Semoga para majelis yang baru diteguhkan dan dilerehkan itu selalu hidup penuh syukur", terbayang sang maha berdoa yang kemudian diaminkan om bowo yang sedang bermain gitar. |seti