teopneusti


Topik itu beta temukan di buku Ikhtisar Dogmatika. Sang penulis tidaklah asing lagi. Dr. R. Soedarmo. Tiga perguruan teologi terkemuka di Nusa Jawa: STT Duta Wacana Yogyakarta, STT Jakarta, dan Fakultas Teologi UKSW pernah diasuh dan diasah oleh beliau.


Teopneusti sendiri adalah paham tentang bagaimana Kitab Suci dituliskan, sehingga disebut sebagai Firman Allah. Hembusan Allah yang menjadi kunci keabsahan sebagai Firman Allah, ternyata tak mudah untuk dibedah. "Teopneusti tetap rahasia", tulis Dr. R. Sudarmo sebelum berkesimpulan bahwa yang terpenting adalah obyek dari teopneusti, yakni kitab suci itu sendiri.


Dogmatikus kesohor ini tidak bisa menerima begitu saja bahwa alat-alat, manusia-manusia merupakan obyek teopneusti. Pendapat ini ditempatkan dalam konteks mengkhususkan kitab suci sebagai tulisan yang berbeda dengan tulisan-tulisan lain.


Begitulah, betapa tidak mudah membedah sebuah pengertian tentang teopneusti yang dikenakan untuk memahami kitab suci sebagai Firman Allah. Istilah teopneusti sendiri bagi Dr. R. Soedarmo tak bisa digantikan dengan istilah inspirasi atau ilham.


Mengingat, teopneusti adalah bahasa asli dalam kitab suci. Istilah tersebut juga menerangkan bahwa yang memberikan, yang menghembuskan (pneo), itu Allah (theos). Jadilah teopneusti tak tergantikan oleh istilah lain. Untuk meringkas diskusi, Dr. R. Sudarmo bersikukuh bahwa kitab suci adalah obyek teopneusti.


Peran manusia yang menulis hanya bisa ditempatkan dalam rangka melayani maksud atau kehendak Allah. Tidak bisa lebih. Tentu, pandangan ini membawa konsekuensi pada dunia tasir kitab suci.


Tujuan penafsiran haruslah dalam rangka mencari apa kehendak Tuhan dan bukan apa pandangan penulis. Sebuah konsekuensi yang melahirkan pertanyaan baru. Bagaimana sebuah penafsiran akan sampai pada penjelasan tentang kehendak Tuhan, ketika yang menafsir adalah tetap manusia yang berdosa?


Tampaknya ada kesulitan serius bagi para penafsir kitab suci untuk memenuhi ekspektasi Dr. Soedarmo dalam konteks penjelasannya tentang teopneusti. Kemungkinan hanya para penafsir yang terlalu percaya dirilah yang mampu memenuhinya. Masalahnya, penafsir jenis ini biasanya tidak toleran, gaya bernalarnya pun seperti sistem kerja saklar. Mau, menjadi penafsir jenis beginian? |seti