SPIRITUALITAS YESUS KRISTUS

Makna spiritualitas
Istilah spiritualitas dipakai dengan berbagai macam makna. Istilah spiritualitas dalam judul spiritualitas Yesus Kristus ini lebih dimaksudkan sebagai kenyataan konkret, sebagai sesuatu yang dapat diamati. Spiritualitas adalah praktek hidup sebagai perwujudan dari iman. Spiritualitas adalah laku sebagai wujud ngelmu. Spiritualitas, dengan demikian, merupakan "lakuning urip" yaitu cara atau model atau gaya atau jalan praktek hidup.
Dengan memaknai spiritualitas demikian ini maka tidak ada perbedaan spiritualitas majelis  atau warga gereja. Yang ada ya hanya spiritualitas it, yaitu cara/gaya/model/jalan hidup  praktek hidup konkret dari orang Kristen.

Sebagaimana sebutan Kristen itu berasal dari Kristus, maka spiritualitas Kristen adalah spiritualitas Kristus,. Spiritualitas Kristen ada cara/gaya/model/jalan praktek hidup sebagaimana yang dijalani Yesus Kristus. Spiritualitas Yesus kristus, itu hanya dimiliki oleh orang yang mempunyai hubungan yang sangat erat, intim dengan Yesus Kristus.

Keeratan atau keintiman hubungan antar pribadi itu bukan hanya soal otak, nalar, paham tetapi terlebih lagi tentang rasa. Apabila rasa tidak pernah diasah maka kehilangan kepekaan. Sebaliknya apabila rasa itu selalu diasah maka akan menjadi peka dan semakin lama semakin peka.

Ketika nabi Elia bersembunyi di sebuah gua di gunung Horeb, ada angin badai dan Elia tahu tidak ada Tuhan. Lalu ada gempa tetapi Elia tahu tidak ada Tuhan. Lalu ada api tetapi tidak ada Tuhan. Lalu ada angin sepoi-sepoi dan Elia tahu Tuhan menemui Elia. Inilah contoh rasa. Elia tahu Tuhan tidak ada di badai, gempa, api tetapi elia tahu Tuhan datang bersamaan dengan adanya angin sepoi-sepoi.

Ada ungkapan atau pernyataan dalam bahasa Jawa "dirasak-rasakake" yang artinya dihayati, dinikmati. Ungkapan atau pernyataan ini juga sering dipakai untuk menyebut menghayati atau menikmati Alkitab, yang diyakini sebagai Sabda Allah. Dalam tata lahir "ngrasak-ngrasakake" itu mencecap atau bahkan menguyah-nguyah sehingga rasa yang terkandung dalam benda yang dicecap atau dikunyah itu sungguh dapat dihayati atau dinikmati rasanya. Jadi, mengenal Yesus Kristus, mempunyai hubungan yang erat atau intim dengan Yesus berarti menikmati, menghayati hubungan yang erat atau intim dengan Yesus. Yesus Kristus itu dicecap, dikunyah-kunyah sehingga sungguh dapat dihayati atau dinikmati rasanya. Akan tetapi Tuhan itu bukan benda, Tuhan itu ROH. Ia tidak bisa dicecap atau dikunyah-kunyah, sebab bukan materi atau benda. Oleh sebab itu pencecapan, pengunyah-nguyahan itu mesti dilakukan oleh roh. Inilah yang pantas disebut dengan pengalaman mistik. Adapun pengalaman mistik yang paling sederhana dan sering dialami oleh setiap orang adalah cinta. Sulit menjelaskan cinta, tetapi orang tahu apakah ia sungguh-sungguh mencintai seseorang atau hanya pura-pura cinta. Seseorang yang benar-benar cinta kepada Yesus Kristus, ia mempunyai hubungan yang intim, erat dengan Yesus. Dengan demikian ia memiliki spiritualitas Yesus, bersedia menjalani hidup dengan cara/gaya/model/jalan praktek hidup Yesus.

Tidak ada cara paling ampuh untuk melatih dan semakin mempertajam kepekaan mengalami atau merasakan pengalaman mistik mempunyai hubungan intim, erat dengan Yesus. Namun, seperti yang dialami Elia di gunung Horeb, sehingga ia menyadari kehadiran Allah,  setidaknya ada dua laku yang layak dijalani, yaitu prihatin dan hening.

Elia prihatin, perih di hati, sebab ia dikejar-kejar hendak dibunuh oleh Akhab dan Izebel. Ia melakukan perjalanan panjang melarikan diri dari Israel hingga sampai di Horeb. Sepanjang perjalanan itu hampir ia mati kelaparan. Memang ia ingin mati alamiah, karena kelaparan atau kehausan atau kelelahan daripada mati dibunuh oleh Akhab dan Izebel. Laku prihatin yang dijalani oleh Elia karena terpaksa itu, dapat dijalani dengan sukarela, yaitu dengan berpuasa.

Di samping prihatin laku yang lebih menentukan agar dapat mengalami penglaman mistik dalam berhubungan dengan Tuhan adalah hening. Hening itu diam, tidak bergerak. Jiwa yang tidak bergerak. Pikiran yang tidak bergerak. Agar dapat menghentikan gerak jiwa atau hati atau pikiran memang raga layak juga berdiam, tidak bergerak. Laku ini adalah meditasi. Memusatkan seluruh perhatian pada satu hal: merasakan, mengolah rasa, mempertajam rasa.

Spiritualitas Yesus Kristus
Ciri utama cara/mode/gaya/jalan praktek hidup atau spiritualitas Yesus Kristus adalah SADAR atau BANGUN atau TERJAGA. Orang yang sadar, atau bangun, terjaga itu waspada. Mampu melihat dengan jelas isi dan gerak jiwa atau hati sendiri. Mampu melihat dengan jelas motivasi atau niat yang mendasari atau menjadi sumber tindakan atau laku yang dijalaninya. Juga mampu melihat dengan jelas hakikat diri nya dan relasi-relasinya dengan Allah serta sesama dan alam.