saya terkena sihirnya Pram!!



Dua belas tahun saya berkenalan dengan yang namanya Minke. Membaca Bumi Manusia kala itu benar-benar membuat sosok Minke terus menghantui saya. Minke... Minke... Minke... Sosoknya begitu melekat di otak dan jiwa, hingga saat ini!
Bukan hanya Minke, tetapi juga Annelies... tetapi juga Nyai Ontosoroh... Mereka serasa begitu dekat, begitu melekat. Saat Robert menggoda Annelies, saya ikutan cemburu. Ada kalanya berontak! Seolah saya ini Minke...

Inilah sihir Pram. Mampu menghidupkan tokoh rekaan dari ceritanya menjadi bagian dari kehidupan kita. Dan sihirnya begitu kuat mencengkeram, sampai entah kapan kita mengenang. Setelah menyelesaikan petualangan Minke dalam tetralogi, saya mencoba petualangan yang lain: Arok Dedes. Tapi belum sempat saya selesaikan karena tuntutan fokus ke skripsi waktu itu. Meskipun demikian, sempat pula tersengat oleh tokoh-tokoh seperti Ken Arok, Ken Dedes, dan Tungul Ametung yang ditampilkan dengan karakter cukup kuat.

Gadis Pantai yang saya baca kemudian pun menimbulkan sebuah sensasi yang janggal. Gadis pantai itu tampil dengan ganjil di tengah gemerlap kehidupan Bendoro-nya. Rasa ganjil inilah yang membekas dan akan terus dikenang. Janggal. Aneh!

Beberapa waktu yang lalu saya membaca Perburuan, dan masih terngiang betapa Hardo, Karmin, dan Ningsih sebagai tokoh di novel tersebut, masih saja bermain di memori saya. Inilah sihir Pram! Kekuatan tulisan Pram ada di dalam perwatakan yang dihidupkan sehidup-hidupnya. Kita tidak diberikan sajian tontonan drama, tapi kita diajak bermain dalam drama tersebut! Kita diajak berpikir, merasa, tersenyum, menangis... Seperti saat Annelies sakit parah dan akhirnya meninggal, saya sempat tergoncang luar biasa. Entah kenapa saya menjadi pusing, mual... berminggu-minggu saya tidak melanjutkan membaca. Saya terkena sihirnya Pram! (dpp)