puja sastra


Puja sastra banyak dilakukan para pujangga zaman dahulu kala. Tujuannya mengembalikan kegoncangan jiwa sang raja. Caranya adalah dengan menggubah suatu karya sastra.


Kitab Bharatayudha karya Empu Sedah-Panuluh adalah salah satu contohnya. Dicipta pada zaman Raja Jayabaya, kala sang raja merasa tergunjang jiwanya sehabis perang melawan adiknya, Raja Hariwangsa dari kerajaan Jenggala. Peperangan antara Panjalu (Kediri) dengan Jenggala itu sungguh memilukan hati. 



Dititahkanlah sang kawi kerajaan Kediri untuk melakukan puja sastra terhadap kakawin Bharatayuda. Hasilnya, Raja Jayabaya pun mengalami ketenangan batin kembali. Mantra puja dalam sastra itu berdampak positif bagi keseimbangan seluruh kerajaan.


Puja sastra adalah aktivitas akal budi dilandasi misi suci dan ketetapan hati. Puja sastra karenanya tidak bisa dilakukan oleh sembarang orang. Jenis tugas dan tanggung jawab dari puja sastra tersebut dengan sendirinya memerlukan kekhususan. Baik itu tempat, waktu, cara, materi, hingga orang yang melakukan.
Dalam konteks sekarang, masihkah puja sastra relevan?


Puja sastra memiliki relevansi bila diletakkan pada konteks masalah dan tujuan yang melatari. Zaman dulu, kegelisahan hingga keterguncangan raja adalah sekaligus keguncangan seluruh kerajaan. Sekarang, keguncangan itu lebih personal. Puja sastra pun bisa menemukan wujud barunya ketika memasuki aneka tradisi agama dan kepercayaan.


Taruhlah dalam konteks tradisi kristianitas. Puja sastra semestinya menemukan panggilannya dalam liturgi Sabda. Tempat di mana Sabda Ilahi dibacakan dan diperdengarkan ulang makna tekstual dan aktualnya melalui pewartaan. Pewartaan yang bertujuan menghantarkan setiap jiwa menemukan sumber hayatinya. Suatu pertemuan mistik sehingga para pendengar mengalami kembali ketenangan hati. |seti