Perburuan, Memanusiakan Pengkhianat



Hardo, Dipo, dan Kartiman adalah pelarian dari PETA, tentara bentukan Jepang. Mereka memberontak karena begitu cintanya dengan tanah air. Ketiganya hidup menyamar sebagai gembel karena menjadi buruan tentara Jepang. Hardo-lah tokoh utama di novel ini. Ia memang ditaruh di antara dua temannya untuk membentuk karekter yang tenang dan bijak. Tidak seperti Dipo yang begitu emosional dan ambisius. Tidak pula seperti Kartiman yang terlalu banyak diam dan pasif.

Sebenarnya ada satu lagi rekan mereka, yaitu Karmin yang sama-sama masuk sebagai anggota PETA. Tapi Karmin tidak mau membelot. Ia tetap saja menjadi anggota PETA. Sikapnya inilah yang kemudian menimbulkan pandangan banyak orang bahwa Karmin adalah pengkhianat bangsa.

Saat kemerdekaan telah diraih, Karmin hampir saja dipenggal kepalanya oleh Dipo yang begitu emosi dengan rekannya itu. Banyak orang yang berkerumun pun ingin menghabisi Karmin si pengkhianat. Tapi Hardo menjadi tembok terakhir yang membela Karmin. Hardo berkeyakinan Karmin punya alasan yang kuat kenapa ia tetap menjadi bagian dari PETA. Karmin pun selamat karena Hardo yang melindunginya.

Pengkhianat itu dibasmi atau dilindungi? Orang yang kita anggap berdosa itu dihukum atau dikasihani? Hardo adalah antimainstream dari apa yang kebanyakan orang pikirkan. Saat yang lain teriak “bunuh dia!!”, Hardo malah berdiri melindungi. Pasti ada alasan kenapa orang bisa menjadi pengkhianat. Pasti ada pendekatan untuk menyadarkannya tanpa menghukum.

Apakah ini pastoral transformatif yang banyak dibicarakan akhir-akhir ini? Menghindari konsep penghukuman dengan pendekatan yang lebih manusiawi? Melakukan pendekatan si pelaku bukanlah objek tetapi subjek? Di sinilah Pram bermain. Ia menempatkan diri di pihak yang berbeda dari yang lain. Ia menempatkan diri di pihak yang ikut menderita bersama dengan korban. Dan di pihak ini pulalah Tuhan ada. (dpp)


(Saat mempersiapkan khotbah kok jadi teringat ada kesamaan tema antara bacaan Yesus dan perempuan berdosa dengan novel Perburuan ini. Sama-sama berbicara tentang penghakiman tanpa memandang konteks. Hmmm... kemungkinan saya kisahkan cuplikan novel ini di khotbah besok. Nuwun, Pak Pram...)