PARA PENYINTAS KEHIDUPAN

Warga Bandengan, Pekalongan, yg adalah para korban banjir rob melampiaskan kekesalan mereka dengan patung berbentuk pocong. 
Dalam hidup, kita menjumpai hal-hal tak terduga. Mulai hal-hal biasa, sampai hal-hal mengejutkan berupa tragedi maupun komedi. 
Beberapa hari ini, hal tak terduga itu berupa bencana. Ia datang di banyak tempat yg belum bersiap. Banjir rob di pesisir utara dan selatan Pulau Jawa, banjir bandang, banjir luapan sungai Bondowoso dan Bengawan Solo, serta tanah longsor. Puluhan korban jiwa masuk statistik pewarta. Ribuan penyintas meratapi nasib mereka. Ritme kehidupan yg berubah, lebih tepatnya bubrah. Meski seketika. Di banyak tempat, bencana itu tak terduga karena baru pertama kali mereka alami. Sebelumnya tak pernah mereka dilanda bencana semacam itu. Namun, manusia - di sinilah hebatnya - tetap mampu bertahan. Sintas.

di balik pocng, ada patung kerongkongan. Satire. 
Tak bisa dimungkiri, banyak yg marah pada alam. Juga pada Tuhan. Tak sedikit pula yang menyalakkan geram pada pemerintah (daerah) yang seolah bungkam telinga. Relawan berdatangan. Ketulusan dan kesigapan mereka menjadi bahan bakar yg belum juga habis, meski terkadang surut oleh lelah dan putus asa. Juga marah.

Bagaimanapun, manusia adalah peyintas yg amat handal. Manusia tetap bertahan hidup, bahkan tak kehilangan naluri kemanusiaan. Kepeduliaan, gotong-royong serta berbagi apa saja masih menjadi gaya. Penyintas butuh tangan yg tertangkup dalam doa, namun juga butuh uluran tangan nyata yang ikut bekerja. Para penyintas juga butuh ruang berekspresi. Atas sedih, tangis, kecewa, takut, dan kemarahan mereka. Sebelum, tentu saja, mereka kembali memanjatkan d0a-doa syukur karena bencana itu nantinya akan berlalu.

Manusia memang diciptakan sebagai penyintas kehidupan. NAmun, sehebat-hebatnya manusia, tetap saja ada hal-hal yg tak mampu ia kendalikan. Di situlah manusia menemukan ruang kosong yg kemudian diisi Tuhan. Namun sayang, banyak yg menjadikan Tuhan sebagai candu dalam hidupnya. Manusia yg mestinya berdaya, memilih merapal doa laksana mantra, berharap Tuhan menuntaskan semuanya. Ya, memang Tuhan menuntaskan semua, melalui karya manusia.  Salut untuk para relawan dan para korban yg masih memerjuangkan kehidupan sesamanya.

Menjadi manusia sejati adalah menjadi penyintas kehidupan. Mampu bertahan dalam segala keadaan, bukan hanya duduk nyaman memandangi ornamen-ornamen agama.