PANDAWA DAN PELAJARAN TENTANG KEKUASAAN

Pandawa itu terdiri atas lima bersaudara, Kurawa terdiri atas seratus bersaudara, sedangkan Dasamuka atau Rahwana itu empat bersaudara. Dibandingkan dengan Kurawa apalagi Rahwana bersaudara, Pandawa itu lima bersaudara yang tanpa pemusatan kekuasaan.

Rahwana itu empat bersaudara. Adiknya ada tiga yaitu Kumbakarna, Sarpakenaka dan Wibisana. Meskipun mempunyai tiga orang saudara, tetapi Rahwana memerintah Alengka sendirian. Adik-adiknya tidak mempunyai peran apa pun dalam penentuan kebijakan Negara Alengka. Apalagi Rahwana itu memang otoriter. Apa pun kehendaknya harus terlaksana. Siapa pun yang menghalangi pelaksanaan kehendaknya pasti dilibas tuntas. Salah satu adiknya yaitu Kumbakarna yang tidak setuju pada tindakannya menculik dan menyembunyikan isteri Rama Wijaya, yaitu dewi Sinta, diusir. Adiknya yang lain, yaitu Wibisana yang juga memprotes tindakannya itu justru akan dibunuhnya sehingga akhirnya melarikan diri dan menyeberang ke pihak lawan. Wibisana bergabung dengan pasuka Ramawijaya.

Duryudana adalah raja Astina. Ia dan para saudaranya  berjumlah 100. Ia menjadi raja Astina dan ke-99 adiknya menjadi pangeran di Astina. Duryudana juga cenderung otoriter. Keputusannya tidak dapat diganggu gugat. Para adiknya dan penasihat lain, seperti Bisma, Salya, dll tidak ditolak menyampaikan nasihat, tetapi keputusan yang dibuatnya mutlak harus dilakukan. Sayang keputusannya selalu dipengaruhi oleh Sengkuni, paman yang juga menjadi patihnya, padahal Sengkuni itu berhati jahat dan bersifat licik. Sehingga keputusan Duryudana juga cenderung egois, jahat, licik.

Pandawa itu lima bersaudara. Salah satu, yaitu Yudistira, menjadi raja Amarta. Adik-adiknya menjadi pangeran, seperti halnya para adik Duryudana menjadi pangeran di Astina dan para adik Rahwana menjadi pangeran di Alengka. Akan tetapi berbeda dengan Duryudana, juga berbeda sama sekali dengan Rahwana, raja Amarta, yaitu Yudistira atau Puntadewa itu selalu mengajak adik-adiknya, juga penasihatnya yaitu Kresna, dalam menentukan kebijakan Negara Amarta. Meskipun hanya satu yang menjadi raja, tetapi Pandawa itu mempunyai kolegialitas, solidaritas dan egalitarian. Keputusan atau kebijakan Amarta adalah keputusan atau kebijakan Pandawa, kelima bersaudara itu. Oleh sebab itu kelima, mereka, bertanggung jawab penuh atas kebijakan atau keputusan itu.

Ada dua tokoh di republik Indonesia yang sekarang ini sedang menjadi perhatian dunia, yaitu Joko Widodo sebagai presiden dan Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok yang menjadi gubernur Jakarta. Keduanya dipuji karena bersih, berani dan konsisten. Betapa pun hebatnya keduanya itu mereka adalah manusia. Keduanya mempunyai kelemahan, dan kekuasaan itu cenderung koruptif. Sehebat apa pun seseorang, kalau terjadi penumpukan dan pemusatan kekuasaan pada dirinya, maka ia mudah tergelincir dan terjebak bahkan terbelenggu oleh penggunaan kekuasaan yang menyeleweng.  Republik Indonesia sekarang ini sedang diserbu oleh bahaya, yaitu kemungkinan penumpukan dan pemusatan kekuasaan. Memang "ndilalah" kedua orang itu, Joko dan Ahok, memang sangat dipuji bukan hanya oleh rakyat tetapi juga oleh dunia luar negeri.  Keduanya memang tokoh yang fehomenal, seolah mutiara di tengah lautan lumpur. Di tengah pejabat Negara baik di legislatif, esekutif maupun yudikatif yang cenderung berkorupsi, Jokowi dan Ahok memang terlihat cemerlang bersih dan sederhana merakyat. Justru karena keistimewaan itulah, ada bahaya yaitu bisa terjadi penumpukan dan pemusatan kekuasaan. Kalau partai politik tidak berbenah diri dan bertobat yaitu lebih mengutamakan kepentingan rakyat daripada citra diri dan ego partai, tanpa pembenahan aparatur Negara sehingga sungguh-sungguh bersih dan teruji tanggung jawabnya, maka bahaya itu sungguh akan terjadi. Semoga gaya Pandawa yang makin hari makin terwujud di Nusantara, dan bukan Kurawa atau Rahwana.
  
_ Ki Atma