Ngaku aja, deh!


Salah satu hal yang paling berat dilakukan, namun sekaligus paling membebaskan, adalah mengungkapkan pengakuan. Baiklah, untuk hal-hal sederhana dan tak berisiko, pengakuan menjadi mudah. Banget. Namun, seringkali masa-masa kritis dan krisis manusia justru ditentukan oleh seberapa berani mengakui sesuatu yg berat dan kompleks. Seringkali juga dilematis. Ingat-ingat saja masa-masa paling menentukan dalam hidup kita. Biasanya itu terjadi setelah adanya pengakuan. Entah pengakuan kita sendiri, atau pengakuan orang (-orang) terdekat kita. Lalu semuanya tak lagi sama.

Dalam hidup, manusia memiliki banyak pengakuan. Dapat berupa lontaran pemikiran, gagasan, sampai luapan perasaan. Yang paling akhir ini yang biasanya ndak mudah. Kadang, ada keadaan di mana mengaku bahagia tidak semudah itu. Apalagi mengaku malu, sedih, kecewa, marah, cemburu. Kadang keadaan tertentu memaksa seseorang memendamnya dalam-dalam. Kita tahu betapa gelisahnya saat-saat seperti itu. Juga tentang cinta. Mengaku cinta itu mudah atau susah? Ah sudahlah...


Akhir-akhir ini aku bertemu dengan banyak pengakuan yang akhirnya terucap dari mulut-mulut yang sekian lama tertutup rapat. Perjumpaan dan percakapan dengan banyak orang membawaku pada kesadaran, betapa pentingnya kita mengkui sesuatu. Dengan jujur, tentu saja. Kejujuran pada diri sendiri itulah yang menentukan banyak hal, pada akhirnya. Dari hal-hal remeh sampai hal-hal yang amat rahasia. Kebanyakan dari pengakuan itu adalah hal-hal yang mengejutkan. Tak terduga. Tak terbayangkan.

Ada yang mengakui rasa malu yang telah ia simpan sekian lama. Ada yang mengaku bersalah karena kecerobohan di masa lalu. Ada yang mengaku sudah tidak tahan lagi berumah tangga, kecuali karena anak-anaknya. Ada yang mengaku kebingungannya memilih si A atau si B. Ada yang mengakui dosa. Betapa mereka adalah orang-orang yang telah melewati tahap-tahap berat. Orang-orang yang telah berani menyampaikan pengakuan. Orang-orang yang telah mempercayakan bagian kehidupannya. Orang-orang yang perlu didampingi, ditemani.

Begitulah pengakuan membuat segalanya jadi lebih jelas. Meski setelahnya bisa jadi lebih mudah atau lebih rumit itu masalah. Namun, pengakuan itulah titik pijak tegas yang menentukan arah.

Sebagian lain, aku berjumpa dengan orang-orang yang masih berdiam, atau kebingungan dengan dirinya sendiri. Orang-orang seperti ini perlu didampingi untuk memasuki peziarahan hatinya, menemukan kejujuran terdalam atas dirinya sendiri. Memang seringkali hal itu tak serta merta mudah ditemukan. Bahkan, diri kita sendiri terkejut atas kejujuran kita sendiri, pada akhirnya. AKu pun belum lama mengalaminya. Begitulah kejujuran mengakui sesuatu memang sulit. Namun setelahnya: membebaskan. Melegakan. Untuk itu aku perlu berterima kasih pada orang-orang yang bersedia menyimpan rahasia. Bahkan mendampingiku bertumbuh. Bagaimanapun, menanggung kejujuran itu kadang lebih berat daripada menanggung kebohongan.

Pengakuan. Itu pula yang mewujud dalam syair puisi, lirik lagu, cerita, hingga kitab yang kemudian berlabel suci. Pengakuan iman yang didokumentasikan, dinarasikan, kemudian diwariskan. Pengakuan iman seseorang atau sekelompok orang itu kemudian berjumpa dengan kisah dan pengakuan para pembacanya, para pewarisnya. Melahirkan kisah demi kisah yang tak kalah mengagumkan.

Juga, siapa yang tak kenal Agustinus, yang menulis pengakuannya dalam Confessions yang menumental itu. Pengakuan yang telah menginspirasi banyak orang setelahnya. Untuk itu ia berani jujur sampai kepada hal-hal yang oleh banyak orang dianggap tabu.

Seberani apa kita mengakui sesuatu? Sejauh itu pula kehidupan kita akan berjumpa dengan perubahan dan masa depan yang kita impikan. Barangkali episode-episode yang membahagiakan dalam hidup kita ditentukan oleh pengakuan-pengakuan yang sedang kita tunda. Karena pengakuan yang dihidupi benar-benar akan mengubah hidup. Pengakuan dosa, pengakuan marah, pengakuan takut, pengakuan tentang hal-hal paling kelam sekalipun, sampai perasaan cinta.

Sudahlah, ngaku aja, deh! Biar makin jelas. Benderang. Temukan seseorang yang kita percaya, lalu ungkapkan.

Sudah terlalu panjang aku menulis. Saatnya aku menyiapkan diri untuk pengakuan-pengakuan berikutnya. Untuk sementara, aku mengaku rindu.