Menunggu Sang Pencerita

Pdt. Yahya Tirta Prewita menahbis diri sebagi 'pemulung cerita'. Sudah banyak cerita dipulungnya. Dari kisah perjalanan naik motor hingga cerita seorang penderita penyakit gagal ginjal. Dari cerita idealisme seorang pendeta muda hingga bagaimana menjadi pendeta di desa menapak jenjang S3. "Luar biasa", kata saya.


Selain pemulung cerita, punggawa hana.web.id juga punya sang pencerita. Baru saja yang bersangkutan, Pdt. Dwi Argo Mursito menegas dirinya di grup WA HanA. Layaknya seorang cendekiawan, keterangan dari kamus bahasa Jawa ditunjukkannya. "Lihat, inilah diriku. Si Moersita ini, ya akulah sang pencerita...", begitulah kira-kira.


Moersita berarti guneman, kandha, cerita. Ketika moersita (mursito) menjadi nama diri, rupanya orang tuanya berharap supaya anaknya menjadi seorang pencerita. Sebuah harapan yang memiliki ketepatan, karena Dwi Argo Moersito kini telah menjadi pendeta di GKJ Pekalongan. Sebuah gereja di pesisir utara Pulau Jawa, anggota Sinode GKJ yang berkantor di Salatiga.


Sekalipun Pekalongan-Salatiga jaraknya cukup jauh, tidak menjadi penghalang bagi pendeta yang hobi main bola ini untuk sering-sering ke Salatiga. Hingga berita ini diturunkan, belum ada konfirmasi di grup WA. Mengapa begitu gembira kalau ke Salatiga. Biarlah itu menjadi urusan pendeta muda, beta yang sudah agak menua ini sebaiknya tidak kepo-kepo amat.


Moersita, semula kami anggap 'dikon mursid', jadilah saleh. Ternyata salah. Wah, tidak apalah. Karena dengan keterangan di atas, potensi pungawa hana.web.id makin terbaca.


Pdt. Dwi Argo Mursito, tentu bukan pencerita sembarangan. Dwi berarti dua. Argo berarti gunung. Mursito sudah dijelaskan di atas. Dari nama ini, nampaknya potensi besar pendeta yang gemar pakai blangkon ini makin berkembang. Apalagi dia sering dinasihati, "Mas Argo, ngatos-atos dados pendhito. Ampun gajah diblangkoni, iso khotbah ora iso nglakoni."


Sebagai pendeta muda, dia pun manut-manut saja menerima nasihat kuna tersebut. Hingga akhirnya dia pun menemukan keraguan. Layaknya seorang filsuf muda, dia bergumam dalam hatinya: "Sing bener ki, gajah diblangkoni apa gajah disangoni, ya?"


Biarlah perihal gajah menjadi urusan pribadinya. Tulisan ini hendak mengupas soal potensi diri sebagai pencerita, sesuai makna namanya. Rupanya, perihal menceritakan keberadaan gunung-gunung di nusantara, akan menjadi kegemaran pendeta yang bentar lagi menempuh S2 di Duta Wacana. Kampus yang akrab dengan warna ungu. Terutama dosen-dosen muda fakultas teologinya, yang suka dengan warna ungu.


Seperti apa, sang pencerita ini nanti akan berkisah tentang gunung-gunung di nusantara, kita tunggu saja. Sayangnya, keberadaan gunung kembar Merapi-Merbabu sudah ditulis Pdt. David Pratama Putra di web ini. Semoga saja, eksistensi gunung kembar lainnya, Sindoro-Sumbing tidak luput dari perhatian sang pencerita, Pdt. Dwi Argo Mursito ini. Anda penasaran dengan tuturannya tentang Sindoro-Sumbing? Jangankan Anda, beta saja dibuat geregetan kok. |seti