Melepas Burung



Acara kumpul-kumpul lansia se-sinode GKJ di Magelang beberapa waktu yang lalu membuat saya kepo berat. Ketika menyaksikan pak Ganjar bersama perwakilan pemuka agama yang hadir (beserta jajaran panggedhe sinode, tentunya) melepaskan burung merpati... muncul pertanyaan mengusik batin : iki maksude apa? Dan melepas merpati pun akhir-akhir ini seolah menjadi trend kekinian yang dilakukan oleh pasangan seusai pemberkatan nikah berlangsung. Pertanyaannya masih sama : iki maksude apa?? Iseng-iseng karena saking kepo-nya, saya kemudian pasang status di fesbuk yang kira-kira isinya bertanya apa maksud dari simbol melepas merpati itu?

Dan setelah 2 x 24 jam status itu terpampang, saya menjumpai beragam jawaban di bawahnya. Ada yang serius pake banget... ada yang romantis... ada yang gojeg...  ada yang nylekit... ada juga yang malah balik nanya... kira-kira beginilah beberapa komentar yang tersaji.

- Katanya melepaskan perdamaian biar menyebar perdamaian... (dari mas N – seorang vicaris)


- Biar terbang lepas bebas.... walau tak sebebas merpati (dari mbak NAC – seorang ibu muda)

- Kalo setahu saya sih melepas merpati pas pernikahan itu.... Simbol kesetiaan bebas pergi kemanapun dengan situasi apapun merpati itu akan setia pada pasanganya. Itu dikaitkan dg janji nikah "mencintai di saat suka duka untung malang, sampai maut memisahkan.." bgtu... (dari mbak MK – seorang pendeta)

- Dilepas di mana? Selain di acara pernikahan, ada juga di pemakaman? (dari mas IW – seorang pendeta juga)

- Jare Pdt. T R.... Pentakosta kok melepas merpati yg lambang RK? (dari mas KYN – lagi-lagi seorang pendeta)

- Ben mabur dolan ngemall merpati ne.... (dari mbak CY – seorang wirausaha)

- merelakan dia pergi..... merpati kan simbol kesetiaan.... kita melepaskan kesetiaan ku.... merelakannya untuk pergi..... kui simbolisasi.... kudu dibaca dengan hermeneutika.... (dari mbak GYM – seorang filsuf muda)

- biar ngirit pak... kalau burung merpati bisa pinjam tetangga (nggak usah beli) nanti kalau sudah dilepas akan kembali ke yg punya... tapi kalau burung yg lain dilepas ya bablas.... hehehe.... kalau nggak percaya bisa dicoba.... (dari om HP – seorang guru)


Dan ternyata pemaknaan simbol itu belumlah seragam. Masing-masing punya penafsirannya sendiri. Biar lebih objektif, saya pun sowan ke seorang simbah yang paling bijak, yakni mbah Gugel. Dan ternyata simbahpun juga bingung. Beliau mengatakan, “katanya sih untuk menolak bala...” Tapi beberapa saat kemudian simbah berubah pikiran lagi, “Bukan ding... itu maknanya perdamaian!” Belum sampai menelan ludah, simbah kembali berujar, “Eh, tapi ada juga yang mengatakan itu Kristenisasi... merpati kan simbole wong Kresten?” Belum sempat ia beranjak, lagi-lagi simbah meralat jawabannya, “Ah, bukan bukan... pas Ashanti menikah dengan Anang, mereka juga melepas burung merpati...” Akhirnya mbah Gugel pun menyerah....


Dan rasa kepo yang mengusik benak saya pun lama-lama berangsur reda. Bukan karena sudah mendapatkan jawaban yang tepat, tapi memang sepertinya tidak ada kesepakatan bersama akan pemahaman simbol ini. Biarlah imajinasi kita menafsirkannya dengan liar. Saya pun mencoba menafsirkannya secara bebas... merpati yang dilepas itu simbol revolusi! Merpati yang tadinya berdiam diri di sangkar dengan ruang gerak yang sangat terbatas, dengan makanan yang sudah tersedia setiap harinya, dan dengan status dimiliki oleh seseorang.... Ketika dibebaskan ia harus menghadapi revolusi! Ia bebas bergerak tak terbatas di alam liar nan binal! Ia harus bertahan hidup dengan mencari makan sendiri! Ia bukan milik siapa-siapa. Ia adalah milik semesta raya. REVOLUSI harus terjadi!! Ini tafsiran saya... Anda punya jawaban beda? Silakan komen di status fesbuk saya. Salam!! (dpp)